Sejumlah pemimpin puncak perusahaan teknologi terkemuka kembali menghadapi kritik publik akibat pernyataan mereka yang dianggap tidak peka terhadap realitas kehidupan masyarakat awam terkait kecerdasan buatan (AI). Komentar-komentar yang mengagung-agungkan efisiensi teknologi ini dinilai semakin menjauhkan interaksi manusia dari kehidupan nyata.
Kritik Terhadap Pernyataan Petinggi Teknologi
Kepala Eksekutif Dazzle AI Marissa Mayer baru-baru ini menuai sorotan setelah meminta bantuan alat AI untuk mendeskripsikan putrinya dalam tugas sekolah. Insiden serupa juga dialami oleh CEO OpenAI Sam Altman, yang menyarankan para orang tua untuk membuat siniar pribadi demi anak-anak mereka saat perjalanan ke sekolah, serta menyatakan tidak bisa membayangkan menjadi orang tua tanpa ChatGPT. Selain itu, CEO Meta Mark Zuckerberg berpendapat bahwa memenuhi kebutuhan sosial dan romantis melalui AI akan semakin dapat diterima di masa depan.
Dalam siniar Equity yang dilaporkan oleh TechCrunch, Amanda Silberling mempertimbangkan apakah para eksekutif industri tersebut sudah terlalu terisolasi untuk membangun produk bagi masyarakat umum. Diskusi bersama Kirsten Korosec, Sean O’Kane, dan Anthony Ha menyoroti alasan para pemimpin industri tersebut kerap terdengar tidak sejalan dengan publik. Silberling menilai situasi ini merupakan gabungan dari masalah pemasaran dan produk, serta menyebut industri teknologi terus mendorong masa depan di mana interaksi dasar antarmanusia semakin dihilangkan oleh sistem.
Anthony Ha menyatakan bahwa ada banyak skeptisisme di tengah masyarakat terhadap AI karena publik merasa para pengelola perusahaan tersebut tidak mementingkan kepentingan orang banyak dan hidup di dunianya sendiri. Di satu sisi, para CEO berada dalam dilema karena ada insentif finansial yang sangat besar untuk mendorong penggunaan teknologi dalam setiap aspek kehidupan, namun di sisi lain gambaran yang ditampilkan justru terlihat menakutkan atau seperti distopia. Kirsten Korosec menambahkan bahwa alat-alat AI kerap memperumit hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui pengamatan langsung terhadap anak sendiri.
Solusi Otomatisasi dan Ketegangan Budaya
Pembahasan dalam siniar tersebut juga mengangkat contoh kasus lain, seperti komentar CEO Bumble Whitney Wolfe Heard mengenai gagasan konselor AI di mana kecerdasan buatan berkencan terlebih dahulu sebelum mempertemukan kedua belah pihak jika dinilai cocok. Silberling berpendapat bahwa orang-orang berusaha menghindari percakapan langsung dan terlalu mengoptimalkan segala hal, padahal kemampuan manusia untuk saling berbicara merupakan hal yang positif bagi masyarakat.
Menanggapi pertanyaan Sean O’Kane mengenai perolehan pendapatan dari interaksi dunia nyata, Silberling mengakui bahwa proses pencarian pasangan secara konvensional melelahkan, tetapi menyerahkan keputusan memilih pasangan kepada komputer yang dianggap lebih mengenal seseorang adalah langkah yang keliru. Ketika ditanya oleh Korosec mengenai target audiens dari optimisasi tersebut, Silberling menjelaskan bahwa para petinggi di perusahaan bernilai tinggi kerap terjebak mendiskusikan hambatan hidup mereka sendiri seperti memesan makanan atau tiket penerbangan, yang bukan merupakan tantangan utama bagi kebanyakan orang rata-rata.
Anthony Ha membandingkan fenomena ini dengan masa awal peluncuran Uber yang hanya menargetkan pengguna awal di San Francisco, dengan asumsi industri teknologi selalu mencerminkan konsumen masa depan. Namun dalam kasus AI, taruhan tersebut belum sepenuhnya terbukti karena masyarakat mulai menolak gagasan bahwa setiap pengalaman hidup harus dioptimalkan dan dihilangkan esensinya. Silberling menutup diskusi dengan mencatat adanya ketegangan budaya, di mana sebagian masyarakat justru beralih kembali menggunakan ponsel berfitur sederhana atau membeli cakram padat (CD) sebagai bentuk kejenuhan terhadap cengkeraman algoritma.
Sumber: TechCrunch








