Daftar Isi
Lonjakan penonton Women’s Super League (WSL) yang sempat melesat hingga 192 persen pasca-kemenangan tim nasional wanita Inggris pada Euro 2022 kini mulai tertahan. Berdasarkan laporan tahun 2026 dari YouGov dan firma arsitektur Populous, nilai tengah angka kehadiran penonton hanya meningkat 166 orang, dari 3.070 pada musim 2023/2024 menjadi 3.236 pada musim 2025/2026.
Sejumlah laga besar bahkan mencatat penurunan jumlah penonton secara signifikan. Pertandingan Arsenal melawan Manchester United di Stadion Emirates merosot dari 46.603 penonton pada musim 2024/2025 menjadi 29.853 penonton pada musim ini. Sementara itu, laga Chelsea menjamu Arsenal juga mengalami penurunan dari 34.302 menjadi 19.349 penonton dalam periode yang sama.
Pemasaran Keluarga dan Keluhan Suporter Setia
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa lingkungan yang ramah keluarga menjadi faktor utama kenyamanan penonton, mengalahkan keberhasilan tim maupun kualitas permainan di lapangan. Namun, hanya 15 persen penonton yang rutin datang ke stadion setidaknya sebulan sekali. Sebanyak 43 persen menganggap diri mereka sebagai pengikut kasual yang lebih tertarik pada turnamen internasional, sedangkan suporter setia hanya mencakup 10 persen.
Strategi klub yang terlalu berfokus pada hiburan keluarga mulai memicu kritik dari suporter. Promosi laga derby London Utara oleh Tottenham Hotspur yang menonjolkan atraksi musik, lukis wajah, dan hiburan anak-anak dinilai mengabaikan kelompok penonton muda serta esensi persaingan sepak bola. Langkah serupa juga diambil Brighton saat mempromosikan kegiatan bertema Halloween dalam laga melawan West Ham pada Oktober lalu.
Jadwal Pertandingan yang Tidak Konsisten
Selain pendekatan pemasaran, ketidakpastian jadwal bertanding menjadi hambatan besar bagi penonton. Berbeda dengan Liga Premier pria yang memiliki slot waktu rutin, jadwal pertandingan WSL sering berubah mendadak. Perubahan hari dan jam pertandingan, ditambah kendala transportasi publik, menyulitkan pendukung untuk membangun rutinitas menonton langsung di stadion.
Bentrokan jadwal juga menurunkan tingkat kehadiran. Pada Oktober lalu, laga derby London Utara antara Tottenham dan Arsenal digelar pukul 12.45 waktu setempat, bersamaan dengan jadwal bertanding tim pria Arsenal melawan Everton. Akibat bentrokan ini, jumlah penonton di stadion hanya mencapai 13.719 orang, turun lebih dari separuh dibandingkan laga serupa pada tahun 2024 yang mencapai 28.852 penonton.
Daya Saing Liga dan Desain Stadion
Tingkat kompetisi liga turut memengaruhi minat penonton. Minimnya alokasi zona kompetisi Eropa dan degradasi membuat banyak pertandingan dianggap kurang krusial. Pemilik London City Lionesses, Michele Kang, sempat menyoroti bahwa keseimbangan kompetitif di ranah sepak bola wanita masih perlu ditingkatkan agar setiap pertandingan terasa penting bagi para pendukung.
Faktor infrastruktur stadion juga memainkan peran penting. Penggunaan stadion utama berkapasitas besar sering kali menyisakan banyak kursi kosong sehingga mengurangi atmosfer pertandingan, sedangkan stadion berkapasitas kecil kerap kekurangan fasilitas penunjang. Menjawab tantangan ini, Brighton merencanakan pembangunan stadion khusus sepak bola wanita pertama di Eropa senilai 75 juta hingga 80 juta poundsterling berkapasitas 10.000 kursi di dekat Amex Stadium.
Mantan pemain timnas wanita Inggris, Ellen White, menyampaikan kepada BBC bahwa sepak bola wanita pada dasarnya terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat. Tantangan utama saat ini adalah menemukan strategi pemasaran yang tepat untuk mempertahankan penonton lama sekaligus menarik segmen pendukung baru secara berkelanjutan.
Sumber: BBC News








