Sport

Insiden Diare di Lomba Hyrox, Wietrzyk Akui Bersalah

Insiden Diare di Lomba Hyrox, Wietrzyk Akui Bersalah

Atlet kebugaran asal Australia, Joanna Wietrzyk, mengakui bahwa keputusannya untuk terus bertanding setelah mengalami diare di tengah ajang olahraga ketahanan Hyrox di Beijing pada September lalu telah membahayakan orang lain.

Dalam wawancara eksklusif dengan BBC News menjelang penampilannya kembali ke arena perlombaan, pemegang rekor dunia berusia 24 tahun itu menuturkan bahwa tekad kuat untuk menang telah mengaburkan akal sehatnya. “It was my decision to continue racing so I take full responsibility for that,” ujarnya.

Ketika ditanya alasannya memilih tetap menyelesaikan lomba, Wietrzyk mengungkapkan penyesalannya. “I didn’t really think about those around me… the decision that I made in hindsight was the wrong decision and I’m truly sorry for everyone that I did affect,” tuturnya. Ia juga mengaku pengalaman tersebut dan rentetan kecaman publik yang muncul setelahnya meninggalkan rasa trauma mendalam hingga membuatnya sempat berpikir untuk meninggalkan olahraga tersebut.

Perubahan Aturan dan Tindakan Penyelenggara

Kompetisi Hyrox menuntut peserta bergantian melakukan lari jarak satu kilometer dan berbagai latihan fisik, seperti mendorong beban kereta seluncur, melompat burpee, mendayung di mesin olahraga ruangan, hingga melangkah membawa kantung pasir. Olahraga ini berkembang pesat di kancah internasional sejak pertama kali digagas di Hamburg, Jerman, pada 2017.

Sekitar separuh perjalanan lomba di Beijing, Wietrzyk mendadak mengalami diare hebat akibat infeksi bakteri dari keracunan makanan, padahal ia mengaku merasa sangat bugar sebelum bertanding. Foto-foto yang memperlihatkan noda kotoran di bagian tubuhnya kemudian menyebar secara viral di media sosial. Saat insiden berlangsung, tidak ada petugas yang memintanya berhenti bertanding.

Salah satu pendiri Hyrox, Moritz Fürste, telah menyampaikan permohonan maaf dan mengakui kelalaian pihak panitia yang tidak langsung mengambil tindakan saat lomba berlangsung. Manajemen Hyrox kini memberlakukan regulasi baru yang memberi wewenang penuh kepada direktur perlombaan untuk mendiskualifikasi dan mengeluarkan atlet jika muntahan, urine, atau kotoran mereka berpotensi menularkan kuman atau membahayakan keselamatan diri sendiri maupun peserta lain di arena tertutup yang menggunakan peralatan bersama. Sementara itu, Hyrox China dilaporkan telah mengembalikan uang pendaftaran kepada sejumlah peserta.

Kecaman Media Sosial dan Langkah Selanjutnya

Wietrzyk sempat menuai kritik lantaran mengunggah tulisan “Go hard or go home” dan “a win is a win” di Instagram seusai perlombaan. Namun, unggahan itu segera dihapus dan ia merilis pernyataan maaf resmi sepekan kemudian, seraya melepaskan gelar juaranya dan menarik diri secara retroaktif dari kompetisi di Beijing tersebut.

Ia menjelaskan kepada BBC News bahwa unggahan awal itu dibuat secara impulsif di bawah tekanan mental ketika sedang mencari pertolongan medis di rumah sakit, tanpa memikirkan persepsi publik luas. Wietrzyk menyebut pekan-pekan setelah peristiwa tersebut sangat menguras mental dan emosinya, terutama setelah keluarganya ikut menjadi sasaran ancaman di jagat maya. Menanggapi situasi itu, pihak Hyrox menyatakan bakal melarang siapa pun yang melayangkan ancaman atau perundungan kepada atlet untuk mengikuti kejuaraan di masa mendatang.

Wietrzyk, yang dijadwalkan kembali turun bertanding di Hamburg, mengaku gugup dan berharap kejadian di Beijing tidak mendefinisikan jati dirinya sebagai seorang atlet, seraya bertekad membuktikan ketahanan mentalnya untuk terus berprestasi.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *