Internasional

Kota Kecil di Kanada Terancam Jadi Kota Mati Akibat Tarif AS

Kota Kecil di Kanada Terancam Jadi Kota Mati Akibat Tarif AS
Daftar Isi
  1. Dampak Penutupan Pabrik bagi Warga Témiscaming
  2. Upaya Pembelian Kembali oleh Warga
  3. Kebijakan Tarif dan Harapan Warga

Kota Témiscaming di Provinsi Quebec, Kanada, kini terancam menjadi kota mati setelah pabrik kertas yang menjadi tumpuan utama perekonomian setempat berhenti beroperasi akibat runtuhnya perundingan dagang dan penerapan tarif impor baru oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dampak Penutupan Pabrik bagi Warga Témiscaming

Sebagian besar dari 360 karyawan pabrik tersebut saat ini kehilangan pekerjaan dan hanya bertahan berkat gaji parsial dari program bantuan tarif pemerintah. Pabrik kertas yang berdiri sejak lebih dari satu abad lalu ini ditutup tanpa batas waktu tertentu oleh pemilik asal Amerika Serikat, RYAM, pada awal Oktober lalu. Penutupan ini membuat nilai properti di Témiscaming merosot drastis dan tanda penjualan rumah mulai bermunculan di berbagai sudut kota kecil tersebut. Warga khawatir para pekerja layanan esensial seperti toko kelontong dan dokter di rumah sakit lokal juga akan meninggalkan kota.

Menurut Stéphane Lefebvre, seorang karyawan sekaligus pemimpin serikat pekerja yang keluarnya telah bekerja di pabrik tersebut selama tiga generasi, dampak hilangnya lapangan kerja ini tidak mendapat perhatian sebesar kota-kota besar. Ia menyebutkan bahwa jika kerugian pekerjaan sebesar sepuluh persen terjadi di Toronto, Montreal, Kota Quebec, atau Vancouver, hal tersebut akan menjadi sorotan media dan mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Tekanan ekonomi ini dikhawatirkan berdampak domino pada seluruh industri kehutanan di wilayah tersebut, termasuk pabrik penggergajian kayu dan sektor truk pengangkut yang telah melaporkan pemutusan hubungan kerja.

Upaya Pembelian Kembali oleh Warga

Warga setempat kini berencana mengulangi sejarah tahun 1973 ketika para pekerja dan manajer bersatu untuk membeli pabrik yang hampir ditutup oleh pemilik asal AS saat itu, yang kemudian sukses menjadi perusahaan internasional bernama Tembec. Saat ini, para pekerja berupaya menggalang koalisi lokal untuk membeli pabrik tersebut dari RYAM yang membelinya pada tahun 2017. Namun, Stéphane Lefebvre menegaskan bahwa upaya tersebut mustahil terwujud tanpa bantuan signifikan dari Perdana Menteri Mark Carney dan pemerintah Quebec, baik berupa keringanan tarif maupun dukungan finansial.

Wali Kota Témiscaming, Alain Gauthier, menilai kebijakan tarif AS bagaikan bom yang melumpuhkan sektor manufaktur Kanada dan mendesak Ottawa untuk membalas dengan mengenakan bea masuk pada produk papan asal AS yang saat ini masuk tanpa tarif. Di sisi lain, juru bicara Menteri Perindustrian Mélanie Joly menyatakan kepada BBC bahwa pemerintah telah menyediakan dana sebesar 400 juta dolar untuk mendukung sektor kehutanan di wilayah pedesaan dan terpencil, serta meluncurkan program bantuan arus kas bagi bisnis yang terdampak tarif.

Kebijakan Tarif dan Harapan Warga

Pada bulan Agustus lalu, Amerika Serikat memberlakukan bea masuk sebesar 50 persen terhadap barang-barang Kanada senilai sekitar 28 miliar dolar, yang mencakup produk kayu dan kertas seperti pulp, alat tulis, dan kotak kemasan. Sebagai tanggapan, Kanada memberlakukan tarif balasan yang setara. Pabrik di Témiscaming, yang menghasilkan papan kertas untuk kemasan makanan beku dan tiket lotere gosok serta mengirimkan sekitar 75 persen produksinya ke AS, terkena dampak langsung dari kebijakan tersebut.

Frank Dottori, mantan eksekutif pabrik berusia 80-an tahun yang turut mengorganisasi pembelian pabrik oleh pekerja pada tahun 1970-an, berpendapat bahwa generasi pekerja saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang tegas untuk mewujudkan ambisi serupa. Sementara itu, warga Témiscaming juga menaruh harapan pada pemilihan paruh waktu di AS untuk menekan Presiden Trump agar melonggarkan tarifnya. Pemerintahan Trump sendiri baru-baru ini mencabut beberapa tarif pada barang Kanada setelah dilobi oleh Senator Republik Susan Collins, meskipun kebijakan tersebut belum mencakup produk dari pabrik Témiscaming.

Warga berharap penyelesaian dapat tercapai segera sebelum musim dingin tiba, sebab suhu di bawah nol derajat dapat membekukan peralatan di pabrik yang tengah menganggur dan memicu kerusakan yang semakin mempersulit proses pembukaan kembali. Sementara itu, Stéphane Lefebvre menyatakan bahwa dirinya tetap bertekad untuk mewujudkan impian kepemilikan lokal atas pabrik tersebut sampai akhir.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *