Politik

Penolakan Pusat Data di Ohio Goyang Politik Pemilu Sela AS

Penolakan Pusat Data di Ohio Goyang Politik Pemilu Sela AS
Daftar Isi
  1. Perlawanan Warga dan Moratorium Proyek
  2. Dampak Politik pada Pemilu Sela
  3. Ekspansi Industri dan Proyek Misterius

Gelombang penolakan terhadap pembangunan pusat data di negara bagian Ohio telah memicu perdebatan sengit di tingkat akar rumput dan mengubah dinamika politik menjelang pemilu sela. Warga di berbagai wilayah bersatu menentang proyek penyimpanan data komputasi awan yang didukung industri kecerdasan buatan karena khawatir akan dampak lingkungan dan lonjakan biaya listrik.

Perlawanan Warga dan Moratorium Proyek

Di pinggiran Grove City, Ohio, warga dari latar belakang politik yang berbeda bergabung dalam kelompok Protect Grove City untuk menentang rencana pembangunan kompleks pusat data seluas 310 hektare oleh perusahaan asal Texas, Headwaters Site Development. Warga setempat menyuarakan kekhawatiran mengenai penggunaan air yang masif, polusi suara, ancaman lingkungan, serta lonjakan biaya energi. “Ini adalah komunitas kami. What if we don’t want you here?” ujar Patty Spillman, seorang pensiunan pengemudi bus yang memimpin kelompok tersebut.

Tekanan dari masyarakat membuat Dewan Kota Grove City mengesahkan moratorium pembangunan pusat data selama satu tahun. Pada November mendatang, warga setempat juga akan memberikan suara pada usulan untuk mewajibkan persetujuan pemilih bagi setiap proyek pembangunan skala besar. Isu ini telah memecah belah komunitas konservatif tersebut, memicu perdebatan sengit di media sosial, dan membuat warga memadati rapat dewan kota demi menentang Wali Kota Richard “Ike Stage” dan pemimpin lokal lainnya yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dampak Politik pada Pemilu Sela

Sentimen anti-pusat data kini menyebar ke seluruh wilayah Ohio yang menampung sekitar 200 pusat data. Jajak pendapat dari Bowling Green State University menunjukkan bahwa hampir 80 persen warga Ohio mendukung moratorium pusat data, sementara lebih dari 100 pemerintah daerah telah menerapkannya. Situasi ini dimanfaatkan oleh Partai Demokrat untuk mendulang dukungan dalam pemilu sela, menghubungkan isu pusat data dengan masalah keterjangkauan ekonomi, transparansi Silicon Valley, dan kecurigaan publik terhadap perusahaan teknologi raksasa.

Di Distrik Kongres ke-15 Ohio, kandidat dari Partai Demokrat Don Leonard menjadikan isu pusat data sebagai sorotan utama kampanyenya melawan petahana dari Partai Republik, Mike Carey. Leonard menyebut pusat data sebagai simbol kapitalisme predator yang mengorbankan komunitas lokal demi keuntungan perusahaan luar. Sementara itu, pertarungan serupa terjadi dalam pemilihan senat antara petahana yang kalah Sherrod Brown dan lawannya dari Partai Republik, Jon Husted, di mana isu insentif pajak miliaran dolar bagi pusat data menjadi perdebatan panas.

Ekspansi Industri dan Proyek Misterius

Ketidakpercayaan publik semakin menguat setelah terungkapnya berbagai kesepakatan tertutup antara pejabat lokal dan perusahaan teknologi. Di Piqua, Ohio, Meta merencanakan pembangunan kampus senilai USD1 miliar melalui perjanjian kerahasiaan dan perusahaan cangkang swasta. Proyek ini memicu kemarahan warga setelah terungkap bahwa sejumlah pejabat kota menerima bonus setelah berhasil menarik investasi tersebut, yang berujung pada petisi untuk pemecatan wali kota.

Headwaters Site Development, yang didirikan oleh mantan pemimpin infrastruktur pusat data Google Michael Lebow, mengeklaim proyek senilai USD6,9 miliar yang disebut Project Maple ini akan membawa ratusan lapangan kerja permanen dan mematuhi batasan lingkungan. Namun, keengganan pengembang untuk mengungkap identitas perusahaan teknologi pembeli fasilitas tersebut justru memperdalam kecurigaan warga. Para aktivis terus memperluas perlawanan dengan mendorong amandemen piagam kota yang akan melarang persetujuan proyek besar tanpa melalui referendum publik.

Sumber: TIME

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *