Kejaksaan di Prancis memulai penyelidikan atas percobaan pembunuhan setelah bom molotov dilemparkan ke arah aparat keamanan dalam unjuk rasa di Paris. Langkah hukum yang diumumkan pada Minggu tersebut diambil setelah prefektur kepolisian Paris menyatakan ratusan perusuh menyerang aparat menggunakan berbagai proyektil, termasuk bom molotov.
Unjuk Rasa Biaya Hidup
Bentrokan meletus di Paris dan sejumlah kota lain ketika ratusan ribu orang menggelar unjuk rasa akhir pekan ketiga untuk memprotes lonjakan biaya hidup dan kemunduran layanan publik. Rekaman video dan gambar dari aksi demonstrasi tersebut memperlihatkan sebuah alat pembuat onar rakitan meledak di dekat kaki seorang petugas keamanan yang mengenakan perlengkapan pelindung, sehingga membakar bagian bawah tubuhnya.
Pihak kejaksaan menyatakan penyelidikan tersebut dibuka atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap orang-orang yang memiliki kewenangan publik. Perangkat peledak dilemparkan ke arah sekitar 15 anggota gendarmerie atau polisi militer serta petugas kepolisian. Meskipun kerusuhan tidak seluas dua pekan sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan tingkat kekerasan yang dilakukan oleh sebagian pihak berada pada level yang luar biasa.
Pernyataan Korban dan Penangkapan
Aparat gendarmerie yang menjadi korban mengatakan unitnya berada dalam posisi diserang dengan lemparan botol kaca, pecahan kaca, batu paving, dan bom api. Korban yang mengalami luka ringan menuturkan bahwa bahan mudah terbakar tersebut begitu pekat hingga terasa menyebar di kulitnya dan membuat pelindung kaki pada seragam antihuru-haranya meleleh. Menurut laporan yang dihimpun oleh penyiar RTL, sebanyak 13 personel dari unit petugas tersebut mengalami luka-luka.
Pihak kejaksaan menyatakan belum ada tersangka yang ditangkap terkait insiden tersebut dan penyidik masih berupaya mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab. Kementerian Dalam Negeri mencatat lebih dari 770 orang ditangkap di seluruh wilayah Prancis. Sebanyak 159 anggota penegak hukum mengalami luka-luka selama unjuk rasa dan perayaan Halloween berlangsung.
Aksi protes tersebut terjadi di tengah situasi politik yang memanas menjelang pemilihan presiden dalam enam bulan ke depan, di mana tokoh terdepan dari kubu sayap kanan Marine Le Pen berjanji memulihkan hukum dan ketertiban jika terpilih tahun depan. Le Pen, yang memimpin partai sayap kanan National Rally, menyatakan melalui media sosial X bahwa para pelaku di balik serangan bom api tersebut harus dihukum dengan tingkat keparahan yang maksimal.








