Sedikitnya 26 orang tewas dan lima lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara Rusia yang berulang kali menghantam sebuah sekolah yang berfungsi sebagai pusat distribusi bantuan di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina. Insiden tragis tersebut terjadi setelah gencatan senjata kemanusiaan selama enam hari resmi berakhir.
Serangan Ganda di Zaporizhzhia
Serangan yang diluncurkan oleh angkatan udara Rusia tersebut melibatkan lebih dari 10 bom luncur yang menyasar Desa Komyshuvakha, terletak sekitar 35 kilometer di sebelah timur Kota Zaporizhzhia dan belasan kilometer dari garis depan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan itu sangat mengerikan dan menuduh Moskow sengaja menargetkan lokasi kemanusiaan.
Menurut Zelenskyy, setelah serangan bom udara pertama, terjadi serangan susulan dengan sembilan bom lainnya yang secara spesifik menyasar tempat perlindungan warga. Layanan darurat Ukraina melaporkan bahwa dua anggota kru penyelamat turut menjadi korban tewas akibat taktik serangan ganda atau double-tap yang dirancang untuk menghantam petugas pertolongan pertama.
Militer Ukraina menyatakan bahwa pasukan Rusia memanfaatkan jeda kemanusiaan sebelumnya di Oleshky untuk memperkuat posisi dan merotasi pasukan. Sebaliknya, pihak Kremlin di Moskow menilai aktivitas tersebut sebagai praktik yang normal dalam situasi konflik.
Diplomasi dan Rencana Pertemuan
Di tengah eskalasi konflik, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, mengumumkan bahwa perwakilan tingkat kerja dari Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina akan menggelar pertemuan trilateral di Abu Dhabi pekan depan. Mediasi yang dijadwalkan pada 10 dan 11 November tersebut akan berfokus pada pengaturan keamanan pascaperang, de-eskalasi, serta upaya kemanusiaan.
Sementara itu, pasukan multinasional yang terdiri atas sekitar 2.800 tentara dari 10 negara Eropa berencana menggelar latihan militer pertamanya di Polandia pada 9 hingga 22 November. Inggris dan Prancis menyatakan bahwa pasukan tersebut hanya akan dikerahkan apabila tercapai gencatan senjata untuk membantu tentara Ukraina mengamankan negara.
Dalam perkembangan lain, Presiden Zelenskyy menyampaikan kepada media bahwa Ukraina bersedia menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia jika Washington bersedia memasok sistem rudal pencegat Patriot. Bantuan rudal tersebut dinilai krusial di tengah menipisnya cadangan pertahanan udara Ukraina untuk melindungi infrastruktur energi dari gempuran Rusia.
Sumber: Deutsche Welle








