Kisah Korea Selatan dan Korea Utara yang terpisah oleh rezim berlawanan mengingatkan Jerman pada masa lalu mereka sebelum bersatu kembali pada tahun 1991. Saat mengunjungi Zona Demiliterisasi (DMZ) pada Jumat, Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan harapan agar rakyat Korea dapat hidup bersatu dalam kebebasan.
Pandangan Berbeda di Korea Selatan dan Utara
Keinginan Merz dinilai sebagai mimpi yang jauh dari kenyataan oleh para pengamat politik inter-Korea. Perbedaan kekayaan dan kebebasan politik yang mencolok membuat isu reunifikasi kian meredup di kedua belah pihak. Menurut profesor kebijakan luar negeri di Kyung Hee University, Choo Jae-woo, generasi muda Korea Selatan tidak lagi memiliki ikatan sentimental dengan Utara dan melihat negara tetangga tersebut sebagai wilayah yang miskin serta penuh ancaman.
Sebuah studi dari Institute for Peace and Reunification Seoul National University pada September menunjukkan bahwa 39,1 persen warga Korea Selatan menganggap reunifikasi adalah hal yang mustahil. Angka tersebut merupakan proporsi tertinggi sejak survei diadakan sekitar dua dekade lalu. Banyak warga khawatir dengan biaya besar yang harus dikeluarkan untuk membangun infrastruktur di Utara, mulai dari jalan raya hingga rumah sakit.
Di sisi lain, Korea Utara telah menunjukkan penolakan tegas terhadap gagasan persatuan. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengumumkan perubahan konstitusi yang menyatakan bahwa reunifikasi damai tidak lagi memungkinkan, dan Korea Selatan diposisikan sebagai musuh yang bersaing. Konstitusi revisi tersebut disetujui pada Maret 2026, di mana rezim Kim menghapus seluruh rujukan mengenai rekonsiliasi dan persatuan nasional.
Menurut profesor politik dan hubungan internasional di Hankuk University of Foreign Studies di Seoul, Mason Richey, rezim Korea Utara berupaya melindungi kekuasaan dan prestise mereka yang terancam jika sistem demokrasi diterapkan. Selain itu, kesenjangan ekonomi yang sangat besar akan memberi tekanan luar biasa bagi pihak Selatan. Data Bank of Korea tahun 2024 menunjukkan Produk Domestik Bruto nominal Korea Utara mencapai 31,7 miliar dolar Amerika Serikat per tahun, sementara Korea Selatan mencapai 1,85 triliun dolar Amerika Serikat atau 58 kali lebih besar.
Dampak Geopolitik bagi Kekuatan Besar
Professor Choo juga menjelaskan bahwa reunifikasi bukan sekadar masalah domestik karena menyangkut aliansi strategis dan keamanan yang berbeda. Korea Selatan bersekutu dengan Amerika Serikat, sementara Korea Utara terikat dengan Tiongkok dan semakin dekat dengan Rusia.
Kekuatan-kekuatan besar tersebut dinilai tidak akan melepaskan sekutu mereka demi reunifikasi karena berkaitan dengan kepentingan strategis. Amerika Serikat tentu menolak jika Korea bersatu namun condong ke Tiongkok, sementara Beijing akan melawan reunifikasi jika militer Amerika Serikat dapat berada di perbatasan Tiongkok yang saat ini menjadi wilayah Korea Utara.
Status quo yang berjalan di semenanjung saat ini dipandang sebagai solusi yang belum sempurna, tetapi menjadi cara terbaik menjaga stabilitas regional. Meski situasi ekonomi, sosial, dan keamanan di masa depan dapat berubah secara drastis, Choo menilai faktor-faktor tersebut membuat berbagai pihak tidak bisa menutup kemungkinan apa pun di kemudian hari seperti dilaporkan Deutsche Welle: DW.com.








