Internasional

Etnis Jerman di Kazakhstan Jaga Sejarah Uni Soviet

Etnis Jerman di Kazakhstan Jaga Sejarah Uni Soviet
Daftar Isi
  1. Sejarah Deportasi dan Hukuman Kolektif
  2. Pusat Budaya dan Peringatan di Astana
  3. Jejak Kamp Kerja Paksa Karlag

Yunna Kinereish, seorang mahasiswi berusia 22 tahun di ibu kota Kazakhstan, Astana, mendedikasikan dirinya untuk menjaga sejarah kelam etnis Jerman di negara tersebut tetap hidup. Sebagai bagian dari Asosiasi Wiedergeburt (Kebangkitan) Jerman di Kazakhstan, Kinereish mewakili 223.000 warga keturunan Jerman yang saat ini tinggal di republik Asia Tengah itu.

Sejarah Deportasi dan Hukuman Kolektif

Perjalanan etnis Jerman di wilayah tersebut bermula dari abad ke-18 ketika mereka didorong untuk bermigrasi ke Kekaisaran Rusia. Namun, situasi berubah drastis setelah tentara Jerman Nazi pimpinan Hitler menginvasi Uni Soviet pada 1941, yang memicu diktaktor Josef Stalin mendeportasi ratusan ribu warga Jerman dari Rusia dan Ukraina ke Siberia serta Kazakhstan.

Penduduk tak berdosa tersebut menanggung hukuman secara kolektif dan dituduh sebagai mata-mata serta kolaborator. Menurut Deutsche Welle, dari lebih satu juta orang yang dideportasi, sedikitnya 200.000 jiwa meninggal dunia akibat pengusiran, kelaparan, dan kerja paksa.

Kinereish mengungkapkan bahwa keluarganya berasal dari desa Kleinwärter di Ukraina sebelum diusir pada masa-masa sulit tersebut. Belum lama ini, ia membintangi sebuah pementasan teater pemuda dari asosiasi tersebut yang mengisahkan nasib para leluhur mereka, sebuah pengalaman emosional yang menyentuh hatinya secara mendalam.

Pusat Budaya dan Peringatan di Astana

House of Friendship di Astana berfungsi sebagai pusat budaya Jerman yang sebagian besar dibiayai oleh pemerintah Jerman, menyediakan kursus bahasa, kerja sosial, serta memupuk budaya peringatan terkait deportasi dan represi era Soviet. Selain tampil di teater, Kinereish juga mendokumentasikan sejarah tersebut melalui film.

Pada 2025, ia memproduksi film mengenai perempuan Jerman yang ditahan di ALZhIR (Kamp Akmolinsk untuk Istri Pengkhianat Tanah Air), salah satu kamp paling terkenal dalam sistem Gulag Soviet. Selama kampanye teror era 1930-an, Uni Soviet mendirikan sistem kamp terbesar di Kazakhstan, dan kamp ALZhIR sendiri menampung 18.000 perempuan yang dipenjara semata-mata karena suami mereka dituduh sebagai musuh negara.

Di antara para tahanan tersebut terdapat 167 perempuan etnis Jerman, termasuk Gertrud Platais, seorang pekerja cetak asal Polandia modern yang suaminya ditangkap pada 1938. Platais dihukum sebagai kerabat pengkhianat dan dikirim ke ALZhIR untuk bekerja sebagai penyulam hingga 1946 sebelum diasingkan ke kamp Karlag.

Jejak Kamp Kerja Paksa Karlag

Karlag merupakan sistem kamp terbesar di wilayah tersebut yang meliputi area seluas 22 kali lipat Kota New York, berfungsi sebagai kompleks ekonomi dan pertanian raksasa. Antara 1931 hingga 1959, hampir satu juta orang melewati kamp ini, dengan perkiraan sekitar 10.000 tahanan meninggal dunia antara 1940 dan 1950 akibat kelaparan, cuaca dingin, penyakit, serta kerja paksa.

Museum Karlag yang terletak di dekat Karaganda menempati bekas gedung administrasi kamp. Antropolog asal Amerika Serikat di Universitas Nazarbayev Astana, Katherine M. Erdman, yang telah meneliti sistem Gulag selama satu dekade, menyatakan kepada Deutsche Welle bahwa banyak warga dan kalangan politik di Kazakhstan tidak tertarik untuk menghadapi sejarah brutal negara tersebut.

Melalui penggunaan teknologi modern seperti penerbangan pesawat nirawak serta wawancara langsung, Erdman dan para mahasiswanya menemukan bahwa bentang alam di berbagai wilayah Kazakhstan dibentuk oleh kerja paksa, di mana pabrik dan rumah dibangun menggunakan batu bata buatan para tahanan.

Meskipun para peneliti membagikan temuan mereka kepada masyarakat dan pemerintah setempat, Erdman kerap menemui sikap apati maupun penolakan di tengah kemajuan ekonomi saat ini. Kendati demikian, generasi muda seperti Yunna Kinereish tetap bertekad memastikan bahwa penderitaan para leluhur mereka di sistem Gulag Kazakhstan tidak terlupakan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *