Daftar Isi
Manusia memiliki sejarah panjang dalam menuturkan cerita hantu dari masa kuno hingga sekarang. Sejumlah ahli menjelaskan berbagai faktor psikologis dan lingkungan yang mendasari mengapa sebagian orang mengalami kejadian yang diyakini bersifat paranormal.
Kondisi Kesadaran yang Berubah
Prof. Christine Simmonds-Moore, psikolog di University of West Georgia, Amerika Serikat, mengatakan bahwa pengalaman tersebut nyata secara subjektif dan berdampak besar, meski bukan berarti memiliki penyebab supranatural. Salah satu penjelasannya berkaitan dengan kondisi hipnagogik, yakni periode peralihan antara tidur dan terjaga. Pada masa ini, imajinasi internal dan persepsi dunia luar dapat bercampur sehingga sulit dibedakan.
Fase tersebut juga berkaitan dengan kelumpuhan tidur atau ketindihan. Menurut Prof. Chris French dari Goldsmiths, University of London, kondisi ini terjadi ketika tubuh terbangun tetapi otak belum. Kelumpuhan tidur kerap dikaitkan dengan perasaan kuat bahwa ada sosok lain di dalam ruangan atau halusinasi fisik yang sangat nyata.
Faktor Psikologis dan Lingkungan
Para ahli menyebut pareidolia atau kecenderungan melihat pola dalam sesuatu yang acak dapat membuat seseorang mengira melihat wajah atau sosok di sudut mata. Simmonds-Moore menjelaskan bahwa manusia lebih rentan menemukan pola tersebut saat mengalami stres. Selain itu, disosiasi atau kondisi ketika aspek diri dialami secara terpisah juga dapat membuat seseorang mempersepsikan bagian dari dirinya sendiri sebagai makhluk lain.
Faktor lingkungan turut memengaruhi pengalaman tersebut. French mengungkapkan bahwa area yang redup atau memiliki langit-langit tinggi secara alami dapat membuat seseorang merasa lebih cemas. Faktor lain adalah keberadaan suara infrasonik atau frekuensi di bawah 20 hertz yang dapat dihasilkan oleh mesin, lalu lintas, maupun sistem perpipaan di bangunan tua.
Faktor Evolusi dan Bias Kognitif
Menurut folkloris Deborah Hyde, kecenderungan mempercayai hal supranatural dapat dijelaskan melalui evolusi manusia yang dibentuk untuk bertahan hidup, bukan untuk mencari kebenaran. Manusia memiliki bias kognitif yang disebut agency detection, di mana respons bawaan saat mengalami hal aneh adalah menganggap ada kesadaran yang menyebabkannya.
Bias konfirmasi juga berperan ketika seseorang mengaitkan pengalaman tidak biasa dengan penyebab supranatural. French menyatakan bahwa jika seseorang sudah memiliki sistem kepercayaan atau keinginan untuk meyakini keberadaan hantu sebagai bukti kehidupan setelah kematian, maka mereka akan lebih terbuka dan memperhatikan bukti-bukti yang mendukung keyakinan tersebut.
Sumber: BBC News Indonesia







