Daftar Isi
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence berpotensi disalahgunakan untuk mengembangkan senjata biologis di masa depan. Para ilmuwan, badan keamanan, dan organisasi internasional kini tengah memantau perkembangan teknologi modern ini yang dapat mengubah patogen dengan tingkat presisi tinggi.
Risiko Keamanan dan Batas Penelitian
Perkembangan bioteknologi memungkinkan analisis dan modifikasi patogen secara lebih tepat, sementara kecerdasan buatan mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi. Menurut laporan Deutsche Welle: DW.com – Top Stories (dw.com), kepala badan intelijen domestik Inggris MI5, Ken McCallum, memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan senjata biologis baik yang sudah ada maupun jenis baru.
Perusahaan kecerdasan buatan Amerika Serikat, Anthropic, melaporkan bahwa mereka telah mengidentifikasi dan memblokir sejumlah upaya penggunaan asisten kecerdasan buatan Claude untuk penelitian senjata biologis. Percobaan tersebut mencakup permohonan pendanaan untuk penelitian gain-of-function serta studi varian flu burung yang sangat menular ke mamalia.
Namun, Anthropic menegaskan bahwa penelitian tersebut juga dapat berkaitan dengan pencegahan medis. Sulitnya membedakan antara sains yang sah dan penyalahgunaannya menjadi salah satu kendala terbesar dalam mengontrol bioteknologi modern.
Karakteristik Senjata Biologis
Senjata biologis melibatkan pemanfaatan bakteri, virus, jamur, serta toksin biologis tertentu seperti cacar, antraks, dan botulinum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kantor Urusan Perlucutan Senjata PBB mendefinisikan senjata biologis sebagai pelepasan zat biologis secara sengaja untuk melukai manusia, hewan, atau tumbuhan.
Senjata ini terdiri dari agen biologis itu sendiri dan sistem penyebarannya seperti rudal, sistem semprot, atau makanan yang terkontaminasi. Bersama senjata nuklir dan kimia, senjata biologis termasuk dalam kategori senjata pemusnah massal.
Berbeda dengan senjata kimia yang menimbulkan efek racun seketika seperti gas sarin atau gas mustard, senjata biologis memicu penyakit infeksi. Dampak dari senjata biologis baru akan terlihat dalam hitungan jam hingga minggu, dengan risiko penularan antarmanusia yang membuat dampaknya sulit diprediksi.
Pengawasan Internasional dan Tantangannya
Berdasarkan hukum internasional, senjata biologis dilarang melalui Konvensi Senjata Biologis (BWC) yang berlaku sejak 1975 dan telah diratifikasi oleh 189 negara. Konvensi ini melarang pengembangan, penimbunan, perolehan, produksi, dan transfer senjata berbasis biologis serta toksin.
Kendati demikian, pengawasan senjata biologis dinilai jauh lebih lemah dibanding senjata kimia yang diawasi oleh Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) dengan sistem inspeksi langsung. Negara-negara masih khawatir inspeksi dapat membongkar data riset sensitif di sektor medis dan farmasi, sehingga pengawasan senjata biologis sangat bergantung pada transparansi dan pelaporan sukarela.
Salah satu kasus penyalahgunaan terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2001 ketika amplop berisi spora antraks dikirimkan kepada sejumlah orang, menyebabkan dua puluh dua orang terinfeksi dan lima di antaranya meninggal dunia.
Kendala Deteksi dan Isu Penggunaan Ganda
Pendeteksian program senjata biologis jauh lebih sulit dibandingkan senjata nuklir atau kimia karena masalah penggunaan ganda atau dual use. Peralatan laboratorium yang dipakai untuk menciptakan vaksin dan obat-obatan dapat digunakan dalam teori untuk penelitian militer.
Selain itu, serangan biologis kerap menyerupai wabah penyakit alami, sehingga memerlukan investigasi mendalam untuk memastikan apakah suatu patogen disebarkan secara sengaja. Sepanjang sejarah, berbagai bentuk serangan biologis telah dilakukan mulai dari peracunan sumur hingga pelemparan mayat korban wabah ke dalam kota yang dikepung.








