Daftar Isi
Pemilu paruh waktu di Amerika Serikat akan segera berlangsung pada Selasa, 3 November, di mana Partai Republik kubu konservatif sayap kanan pimpinan Presiden Donald Trump saat ini memegang mayoritas di kedua kamar Kongres. Namun, hasil pemilu di belahan dunia lain menunjukkan kemenangan bagi partai-partai berhaluan kiri di Serbia dan Brasil, yang menjadi kabar buruk bagi Trump.
Kehilangan Sekutu di Serbia dan Brasil
Di Serbia, Trump kehilangan sekutu Eropa yang penting dalam diri politisi Aleksandar Vucic, sementara di Brasil, kubu Trump sebelumnya mengharapkan kemenangan bagi Flavio Bolsonaro. Lawrence J. Haas, seorang pengambil kebijakan luar negeri senior di American Foreign Policy Council, mengatakan bahwa Trump sangat mendukung Jair Bolsonaro dan putranya, Flavio, serta tidak merasa senang dengan kekalahan mereka maupun kemenangan Luiz Inacio “Lula” da Silva.
Flavio Bolsonaro saat ini sedang diselidiki atas dugaan korupsi dan pencucian uang, lalu melarikan diri ke Florida setelah kalah pemilu. Departemen Luar Negeri AS memberikan visa masuk bagi dirinya dan keluarga meskipun proses hukum masih berjalan. Bolsonaro menolak mengakui kekalahan dan mengeklaim adanya kecurangan, pernyataan yang mirip dengan narasi Trump yang menyebut pemilu AS 2020 dicuri. Trump menyatakan pada Senin bahwa pemilu di Brasil tampak seperti pemilu yang dicurangi dan terlihat sangat buruk.
Hubungan Dekat dengan Vucic dan Moskow
Aleksandar Vucic memimpin Serbia sejak 2017 dan mundur sebelum pemilu ini untuk mencalonkan diri sebagai perdana menteri. Vucic sempat menyatakan bahwa dirinya dan Trump memiliki pandangan yang serupa, sementara putra sulung Trump, Donald Jr., pernah mengunjungi Vucic di Beograd pada akhir 2024 dan beberapa bulan kemudian. Konservatif AS berencana mengadakan pertemuan di Beograd pada November dengan Vucic sebagai pembicara utama, kendati status acara tersebut belum jelas.
Persamaan lain antara Vucic dan Trump adalah sikap positif mereka terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dibandingkan kebanyakan pemimpin Eropa lainnya. Vucic tidak menjatuhkan sanksi kepada Rusia terkait Ukraina, sementara media pemerintah Serbia menampilkan citra positif tentang Moskow. Di sisi lain, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, menyebut Putin sebagai seorang humanis, dan Trump mengakui dirinya lebih cocok dengan Putin daripada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Ketidakpastian Hasil Pemilu di Israel
Hasil pemilu di Israel masih menyisakan kemungkinan yang disukai Trump, di mana blok sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memimpin dengan lebih dari 96 persen suara terhitung. Kendati demikian, Netanyahu kehilangan mayoritas suaranya dan negosiasi koalisi diprediksi akan berjalan sulit.
Trump dan Netanyahu merupakan sekutu dekat, termasuk dalam keputusan kontroversial Trump pada 2018 yang memindahkan kedutaan besar AS ke Yerusalem. Hubungan kedua negara tetap erat sebagai mitra strategis, meskipun masa depan hubungan tersebut bergantung pada bentuk pemerintahan Israel selanjutnya.
Dampak terhadap Posisi Politik Trump di AS
Analis kebijakan luar negeri Haas menilai bahwa kekalahan Vucic dan kemenangan Lula tidak akan memengaruhi pemilu paruh waktu di AS karena para pemilih fokus pada isu domestik yang memengaruhi mereka secara langsung. Kendati demikian, prospek politik Trump tidak sepenuhnya cerah.
Haas menjelaskan bahwa Trump memiliki tingkat kepuasan publik terendah dibandingkan presiden mana pun menjelang pemilu paruh waktu sejak Harry Truman pada 1946. Warga Amerika saat ini sangat mengkhawatirkan masalah keterjangkauan biaya hidup dan menentang keterlibatan AS dalam perang dengan Iran.
Sumber: Deutsche Welle








