Sport

Kampanye Buruk Tim Rugby League Inggris di Piala Dunia

Kampanye Buruk Tim Rugby League Inggris di Piala Dunia
Daftar Isi
  1. Persiapan Singkat dan Kendala Perjalanan
  2. Krisis Cedera Pemain
  3. Seruan Investasi untuk Tim Putri

Tim nasional rugby league putra dan putri Inggris terancam mencatat sejarah buruk dengan gagal melaju ke babak empat besar Piala Dunia untuk pertama kalinya. Tim putra gagal memenuhi margin kemenangan yang dibutuhkan meski mengalahkan Papua Nugini, sementara tim putri takluk dari Samoa.

Persiapan Singkat dan Kendala Perjalanan

Tim putra Inggris menghadapi turnamen yang diselenggarakan di Australia, Selandia Baru, dan Papua Nugini dengan persiapan yang sangat terbatas setelah Prancis mundur karena alasan finansial. Pelatih kepala Brian McDermott ditunjuk pada bulan April dan hanya memiliki waktu enam bulan tanpa pertandingan internasional pertengahan musim.

Perjalanan skuad berbasis di Inggris menuju Perth memakan waktu 48 jam dan menyebabkan para pemain kelelahan, mirip dengan kisah komedi tahun 1987 Planes, Trains and Automobiles. McDermott menyatakan, “You give me another two or three weeks preparation or another couple of games of preparation leading into the tournament and I’d be really excited.”

Krisis Cedera Pemain

Selain masalah persiapan, pelatih McDermott juga kehilangan sejumlah pemain kunci akibat cedera. Cedera yang menimpa Matty Lees, Mike McMeeken, Caleb Hamlin-Uele, Morgan Smithies, dan Morgan Knowles membuat lini depan Inggris pincang menghadapi lawan-lawan kuat.

Setelah kekalahan dari Tonga, Inggris berada di posisi sulit karena harus mengejar selisih skor yang besar. Mereka gagal mencetak angka yang cukup saat melawan Papua Nugini, yang membuat McDermott mengakui timnya tinggal menunggu waktu tersingkir.

Seruan Investasi untuk Tim Putri

Tim putri Inggris juga tersingkir setelah kalah 24-6 dari Samoa dalam pertandingan penentuan semifinal. Pelatih kepala Stuart Barrow menurunkan skuad muda yang sebagian besar memiliki pekerjaan penuh waktu di luar rugby league.

Barrow menyoroti ketimpangan investasi dibandingkan kompetisi NRL Women’s Premiership di belahan bumi selatan yang membuat negara-negara Pasifik berkembang pesat. “Back home, we need to have more investment into the women’s and girls game. It can’t just be a token gesture at some clubs – and I’m not saying it is, but we need to put money into it,” ujar Barrow.

Selain masalah finansial, tim putri Inggris juga terkendala minimnya pertandingan kompetitif tingkat internasional selain melawan Prancis dan Wales. Nasib kedua timnas Inggris di Piala Dunia baru akan dipastikan sepenuhnya setelah pertandingan antara Tonga dan Samoa.

Sumber: BBC Sport

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *