Internasional

Survei Ungkap Isu Utama Pemilih AS Jelang Pemilu Paruh Waktu

Survei Ungkap Isu Utama Pemilih AS Jelang Pemilu Paruh Waktu
Daftar Isi
  1. Isu yang Paling Diperhatikan Pemilih
  2. Penilaian terhadap Kebijakan Presiden Trump
  3. Kepuasan Keuangan dan Tekanan Ekonomi Rumah Tangga
  4. Antusiasme Pemilih dan Preferensi Kongres

Warga Amerika Serikat dijadwalkan memberikan suara dalam pemilihan umum paruh waktu pada Selasa, dengan perekonomian, biaya hidup, dan imigrasi menjadi isu utama. Meskipun pemilih dari Partai Demokrat dan Republik sama-sama mengkhawatirkan kenaikan biaya hidup, berbagai survei terbaru menunjukkan perbedaan pandangan di antara mereka mengenai kondisi ekonomi, Presiden Donald Trump, serta isu-isu krusial lainnya.

Isu yang Paling Diperhatikan Pemilih

Perekonomian mendominasi perhatian pemilih di Amerika Serikat, namun kelompok pendukung Demokrat dan Republik memiliki prioritas berbeda terkait perawatan kesehatan, imigrasi, serta kejahatan. Berdasarkan survei Pusat Riset Pew yang dilakukan antara 28 September dan 4 Oktober, sebanyak 84 persen pemilih terdaftar memandang perekonomian sebagai hal yang sangat penting dalam menentukan pilihan mereka.

Isu ekonomi menjadi prioritas utama bagi 82 persen responden yang mendukung kandidat Republik serta 88 persen pendukung Demokrat. Kendati demikian, terdapat perbedaan pandangan yang cukup mencolok pada sektor lain. Sekitar 85 persen pendukung Partai Demokrat menganggap masa depan demokrasi sebagai persoalan yang sangat penting, sementara pemilih Republik yang memiliki pandangan serupa hanya mencapai 69 persen. Perawatan kesehatan menjadi prioritas bagi 82 persen pemilih Demokrat dan 53 persen pemilih Republik.

Sebaliknya, para pendukung Partai Republik menunjukkan perhatian lebih besar terhadap masalah imigrasi, dengan 72 persen menyatakan isu tersebut sangat penting dibanding 53 persen dari pihak Demokrat. Kejahatan dengan kekerasan juga lebih diutamakan oleh pendukung Republik sebesar 64 persen, sedangkan pemilih Demokrat hanya 37 persen. Sementara itu, jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Kaiser Family Foundation (KFF) pada 16 hingga 21 September mencatat bahwa 42 persen responden lebih mempercayai Partai Demokrat dalam menangani biaya kesehatan, sementara pendukung Partai Republik berada di angka 22 persen. Terkait biaya hidup, 39 persen responden lebih mempercayai Demokrat dan 25 persen memilih Partai Republik.

Penilaian terhadap Kebijakan Presiden Trump

Pandangan mengenai Presiden Trump beserta kebijakan ekonominya terbelah tajam berdasarkan garis partai. Survei Pusat Riset Pew menunjukkan bahwa 91 persen responden dari Partai Demokrat serta simpatisannya berpendapat kebijakan ekonomi Trump telah memperburuk keadaan. Di kalangan pendukung Republik, sebanyak 39 persen menilai kebijakan tersebut memperbaiki perekonomian, 35 persen menyatakan kondisi menjadi lebih buruk, dan 25 persen berpandangan kebijakan itu tidak memberikan banyak pengaruh.

Dalam jajak pendapat NBC News yang dirilis pada 1 November, sebanyak 40 persen pemilih terdaftar memberikan persetujuan atas kinerja keseluruhan Presiden Trump, sementara 60 persen lainnya menyatakan ketidaksetujuan. Perbedaan sikap ini juga tercermin dalam penilaian terhadap kondisi ekonomi secara umum. Sebanyak 36 persen pemilih Republik menilai perekonomian Amerika Serikat berada dalam kategori sangat baik atau baik, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan pemilih Demokrat atau simpatisannya yang hanya mencatatkan 9 persen.

Namun, mayoritas responden dari kedua kelompok tetap mengungkapkan kecemasan terhadap lonjakan harga barang dan jasa esensial. Menurut Pew, 82 persen pemilih Demokrat mencemaskan harga makanan serta barang konsumsi, dibandingkan 62 persen dari kubu Republik. Biaya kesehatan dikhawatirkan oleh 80 persen pemilih Demokrat dan 57 persen pemilih Republik, sementara harga bahan bakar minyak serta energi meresahkan 81 persen pendukung Demokrat dan 65 persen pendukung Republik. Jajak pendapat Fox News pada 14 Oktober turut mencatat 74 persen responden menilai perekonomian secara negatif, dengan 60 persen mengidentifikasi biaya hidup sebagai masalah ekonomi terbesar mereka.

Kepuasan Keuangan dan Tekanan Ekonomi Rumah Tangga

Jajak pendapat NBC mencatat bahwa 51 persen pemilih terdaftar merasa tidak puas dengan situasi keuangan pribadi mereka, berbanding 49 persen yang merasa puas. Kondisi ini menandai pertama kalinya dalam tiga dekade jajak pendapat NBC di mana ketidakpuasan finansial pribadi melampaui tingkat kepuasan. Berdasarkan survei NPR/PBS News/Marist pada 19-20 Oktober, 38 persen pemilih potensial menyatakan keuangan mereka memburuk selama setahun terakhir, 44 persen menyebutnya relatif sama, dan 15 persen mengalami peningkatan.

Sebanyak 51 persen pemilih potensial dari Partai Demokrat melaporkan kondisi keuangan mereka mengalami kemunduran, sedangkan pemilih Republik yang merasakan hal serupa berada di angka 21 persen. Survei Reuters/Ipsos yang berlangsung dari 30 September hingga 5 Oktober menunjukkan 71 persen pemilih Demokrat dan 57 persen pemilih Republik menyatakan pendapatan mereka tertinggal dari laju kenaikan harga.

Eric Ham, mantan staf kongres dari Partai Demokrat dan penasihat keamanan nasional senat, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa tarif global yang diterapkan Trump serta perang Amerika Serikat dan Israel di Iran telah memperberat tekanan finansial pada rumah tangga di Amerika Serikat. Warga harus membayar lebih tidak hanya akibat luka yang diakibatkan sendiri oleh Presiden Donald Trump melalui penerapan tarif, tetapi juga dari perang pilihan tersebut, tutur Eric Ham.

Antusiasme Pemilih dan Preferensi Kongres

Pemilih dari Partai Demokrat menunjukkan tingkat antusiasme yang lebih tinggi untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum. Jajak pendapat Marist mencatat 91 persen pemilih potensial Demokrat merasa antusias atau sangat antusias, dibandingkan 86 persen dari kubu Republik dan 76 persen dari kalangan Independen. John Fury, mantan staf kongres dari Partai Republik, menuturkan bahwa hari-hari terakhir kampanye difokuskan sepenuhnya pada mobilisasi massa. Pemilu ini bukan soal meyakinkan pemilih, melainkan bagaimana mengerahkan basis pendukung, ucap John Fury kepada Al Jazeera.

Survei KFF juga memperlihatkan bahwa pendukung kandidat dari Partai Demokrat memiliki kemungkinan 25 poin persentase lebih tinggi untuk mendefinisikan diri mereka sebagai pihak yang jauh lebih termotivasi dibandingkan biasanya untuk memberikan suara, yakni 63 persen berbanding 38 persen. Jajak pendapat NBC News pada 1 November turut mencatat tingkat ketertarikan yang tinggi terhadap pemilu, di mana 70 persen pemilih terdaftar menilai minat mereka berada di angka sembilan atau sepuluh dalam skala sepuluh poin.

Berbagai jajak pendapat yang dilakukan pada pekan-pekan terakhir menjelang pemilu mengindikasikan bahwa para pemilih lebih condong kepada kandidat dari Partai Demokrat atau menginginkan kontrol Kongres dipegang oleh partai tersebut alih-alih oleh Partai Republik. Jajak pendapat NBC pada 28 hingga 30 Oktober menunjukkan 52 persen pemilih terdaftar lebih menyukai kendali Kongres dipegang oleh Demokrat, sementara 45 persen memilih Republik. Tren serupa terlihat pada survei Reuters/Ipsos yang mencatat 53 persen pemilih potensial akan memilih atau cenderung memilih kandidat dari Partai Demokrat di distrik mereka, berbanding 44 persen yang memberikan dukungan kepada Partai Republik.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *