Sport

Potensi Hukuman Ganda Man City Dinilai Terlalu Berlebihan

Potensi Hukuman Ganda Man City Dinilai Terlalu Berlebihan

Seorang pakar keuangan sepak bola memperingatkan bahwa sanksi ganda terhadap Manchester City dinilai terlalu berlebihan menyusul putusan pelanggaran aturan Financial Fair Play (FFP). Klub tersebut berisiko menghadapi berbagai hukuman berat jika proses banding mereka gagal.

Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan terkait pelanggaran regulasi FFP Premier League antara tahun 2009 hingga 2018. Sebagian dari dakwaan tersebut juga berkaitan dengan ketidakpatuhan klub dalam proses penyelidikan. Meski begitu, pihak klub terus menegaskan tidak bersalah dan resmi mengajukan banding atas putusan awal tersebut.

Klub menyatakan memiliki bukti tidak terbantahkan untuk membersihkan nama mereka. Namun, mereka dituduh melakukan pemalsuan senilai sekitar 900 juta poundsterling demi mempercepat pertumbuhan tim di lapangan serta membangun fondasi dominasi di bawah mantan manajer Pep Guardiola. Jika banding ditolak, Manchester City berpotensi menghadapi denda besar, larangan transfer, pengurangan poin, pengusiran dari kompetisi, hingga pencabutan gelar juara Premier League.

Ancaman Pengurangan 50 Poin dan Larangan Transfer

Laporan dari Football Insider menyebutkan bahwa hukuman yang diperkirakan bakal dijatuhkan adalah pengurangan 50 poin. Sanksi ini dapat menyeret tim ke dalam persaingan menghindari degradasi dari Premier League musim ini.

Mantan penasihat keuangan Manchester City, Stefan Borson, menjelaskan alasan mengapa kombinasi hukuman berupa pengurangan poin dan larangan transfer dianggap sangat berlebihan. Walaupun semua potensi sanksi secara teoritis memungkinkan, Borson menilai skenario gabungan tersebut sangat kecil kemungkinannya untuk diterapkan.

“If City were to be relegated, I don’t think you could have a scenario where a penalty is imposed that causes a wholesale of footballers, but they’re not allowed to purchase any,” kata Borson kepada Football Insider.

Borson menjelaskan bahwa apabila klub terdegradasi, mereka wajib memangkas beban gaji dengan cara menjual para pemain. Keberadaan larangan transfer akan menghalangi klub untuk mendatangkan pemain baru, sehingga mereka terpaksa hanya mengandalkan pemain dari akademi muda. Menurutnya, pihak berwenang perlu menyelaraskan kedua bentuk sanksi tersebut agar tidak menimbulkan dampak yang tidak proporsional.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *