Konferensi keanekaragaman hayati Cop17 yang berlangsung di Yerevan, Armenia, menunjukkan suasana perundingan yang lesu dengan minimnya keputusan penting. Para menteri lingkungan dari seluruh dunia hadir untuk merespons ketertinggalan mereka dalam memenuhi target keanekaragaman hayati yang disepakati empat tahun lalu, yang kini terancam gagal total.
Suasana Lesu dan Tantangan Implementasi
Ruang perundingan di pusat Meridian tampak sepi perhatian dunia yang tertuju ke tempat lain, sementara para delegasi berisiko melanjutkan rekam jejak buruk karena tidak pernah mencapai target keanekaragaman hayati yang ditetapkan sendiri. Tantangan implementasi selalu menjadi salah satu bagian tersulit dalam proses Cop, di mana perjanjian yang dinegosiasikan dengan susah payah kekurangan mekanisme berarti untuk menghukum perilaku buruk atau menyoroti negara yang tertinggal, sehingga pelaksanaan janji sepenuhnya bergantung pada pemerintah nasional.
Seruan Reformasi Proses Global
Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB, Inger Andersen, menyatakan bahwa proses multilateral berjalan lambat meskipun menghasilkan sesuatu, seperti yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal António Guterres agar mereka berbuat lebih banyak dengan lebih cepat karena belum berada di posisi yang diinginkan. Andersen menyebutkan bahwa agenda lingkungan saat ini sangat padat dengan terlalu banyak pertemuan, sehingga negara anggota perlu mulai melihat hal-hal mudah seperti tumpang tindih program antar konvensi yang menguras energi. Sejarah mencatat berbagai konvensi muncul pada waktu yang tepat mulai dari perdagangan satwa liar ilegal pada tahun 70-an, spesies migrasi, keanekaragaman hayati yang lebih luas, hingga lahan basah, yang kini menghasilkan terlalu banyak konvensi sehingga perlu dipikirkan kembali.
Pemerintah dijadwalkan menandatangani rencana aksi untuk kembali ke jalur target keanekaragaman hayati dekade ini menjelang akhir pekan, meskipun sedikit pihak di Yerevan yang mengharapkan langkah besar.
Sumber: Environment | The Guardian








