Ford dan Slate tengah berlomba menghadirkan truk listrik dengan harga awal di bawah 30.000 dolar AS atau sekitar Rp475 juta. Blank Slate Truck dibanderol mulai dari 24.950 dolar AS ditambah biaya pengiriman 1.450 dolar AS, sementara Ford Fathom mulai dari 28.350 dolar AS ditambah biaya pengiriman 1.595 dolar AS.
Pendekatan Sistem Hiburan yang Berbeda
Ford menyampaikan bahwa Fathom akan dilengkapi dengan layar sentuh berukuran besar yang mendukung Apple CarPlay dan Android Auto. Sebaliknya, seperti dilaporkan Engadget, Slate memilih untuk meniadakan sistem infotainmen tradisional dan menggantinya dengan dudukan untuk menempatkan serta mengisi daya ponsel pengemudi.
Slate tidak sekadar meninggalkan fitur CarPlay dari daftar pilihan, melainkan mengandalkan ponsel atau tablet pengguna untuk menjalankan fungsi tersebut. Fitur dudukan dan pengisian daya ponsel tersedia sebagai standar, sementara pembeli dapat menambah aksesori berupa pengeras suara dan braket untuk tablet yang lebih besar. Navigasi, musik, serta aplikasi kompatibel lainnya tetap berada di perangkat pengguna.
Slate menjelaskan kepada InsideEVs bahwa pembaruan perangkat lunak kendaraan dapat diunduh melalui ponsel lalu ditransfer ke truk, sehingga menghilangkan kebutuhan akan koneksi seluler tertanam. Pendekatan ini dinilai memiliki logika tersendiri karena perangkat keras infotainmen berada di tangan pengguna sehingga tidak akan ketinggalan zaman seiring bertambahnya usia kendaraan.
Kendati demikian, pendekatan tersebut memunculkan beberapa kompromi berupa ukuran layar ponsel yang lebih kecil dibandingkan layar dasbor khusus. Sejumlah calon pembeli bahkan telah mendiskusikan berbagai cara di internet untuk memasang sistem audio aftermarket maupun proyek Raspberry Pi agar bisa mendapatkan fitur CarPlay atau Android Auto di dalam truk tersebut.
Strategi Efisiensi Biaya Produksi
Di sisi lain, Ford menempuh jalur yang lebih konvensional dengan menyematkan layar bawaan yang mendukung CarPlay dan Android Auto pada Fathom. Truk tersebut juga akan dilengkapi kunci digital, daya dua arah, serta perangkat keras untuk sistem kemudi tanpa genggam generasi berikutnya dari Ford, yakni BlueCruise, yang memerlukan aktivasi.
Perbedaan pada sektor infotainmen ini mencerminkan cara kedua perusahaan dalam menekan biaya produksi truk listrik murah. Slate memulai pengembangan dari awal dengan mempertimbangkan secara ketat setiap komponen yang harus disertakan, sementara Ford memanfaatkan pengalamannya selama lebih dari satu abad untuk menyederhanakan teknik rekayasa serta perakitan kabin.
Ford menginvestasikan dana sebesar 2 miliar dolar AS untuk mengubah fungsi Pabrik Perakitan Louisville agar sesuai dengan Sistem Produksi EV Universal. Pabrik tersebut diklaim menggunakan komponen 20 persen lebih sedikit, selang pendingin 50 persen lebih sedikit, serta kabel yang jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan SUV listrik generasi pertama mereka, Mustang Mach-E. Proses perakitan juga diproyeksikan 15 persen lebih cepat.
Integrasi telepon pintar tetap menjadi faktor penting bagi konsumen. Berdasarkan Studi Konsumen Otomotif Global 2025 oleh Deloitte yang melibatkan lebih dari 31.000 responden di 30 negara, sebanyak 63 persen responden di Amerika Serikat menganggap konektivitas telepon pintar melalui CarPlay atau Android Auto sebagai hal yang penting pada kendaraan berikutnya.
Ford belum mengumumkan perkiraan jarak tempuh, kapasitas derek, maupun kapasitas muatan untuk Fathom, dengan masa prapesanan yang dijadwalkan mulai awal tahun 2027.








