NASA meluncurkan wahana kembar Voyager 1 dan Voyager 2 pada tahun 1977 dengan memanfaatkan konfigurasi planet yang terjadi sekali dalam 175 tahun, yaitu kesejajaran empat planet terbesar di tata surya: Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Menggunakan enam kali bantuan gravitasi di antara keduanya, misi tur akbar tersebut memberikan pemandangan jarak dekat dari planet-planet raksasa gas dan es beserta beberapa bulannya.
Perjalanan dan Piringan Emas
Memasuki dekade 1980-an, kedua wahana tersebut mengambil jalur yang berbeda di Saturnus. Ketika Voyager 2 melanjutkan perjalanan menuju Uranus dan Neptunus, Voyager 1 mengabadikan potret terakhir tata surya yang tidak menyertakan Merkurius dan Mars, termasuk foto titik biru pucat yang menjadi tempat tinggal manusia.
Setiap wahana membawa Piringan Emas, yaitu piringan fonograf berukuran 12 inci yang memuat sapaan lisan dalam 55 bahasa, 27 trek musik, 116 gambar, dan berbagai suara dari Bumi. Piringan tersebut dilindungi penutup luar yang dihiasi ukiran letak Matahari terhadap 14 pulsar beserta petunjuk pemutarannya. Penutup itu menggunakan aluminium yang dilapisi secara elektroplating dengan sampel isotop uranium-238 murni yang memiliki waktu paruh 4,468 miliar tahun, sementara piringannya sendiri menggunakan pelapisan tembaga dan emas untuk melindungi data dari radiasi luar angkasa.
Batas Heliosfer dan Tonggak Sejarah
Pada Agustus 2012 dan November 2018, Voyager 1 dan Voyager 2 melintasi heliopause, yakni batas tempat angin surya bertemu dengan medium antarbintang. Bumi berkomunikasi dan melacak perjalanan kedua wahana tersebut menggunakan Jaringan Luar Angkasa dalam milik NASA.
Antena Canberra mencatat posisi Voyager 1 berada pada jarak 25,80 miliar kilometer atau sedikit lebih dari 16 miliar mil dari Bumi. Tepat pada 18 November 2026, atau 49 tahun sejak peluncurannya, Voyager 1 akan melintasi batas satu hari cahaya yang berjarak 16,1 miliar mil dari Matahari.
Sumber: NASA








