Di tengah masa kecemasan ekonomi, kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan, dan ketidakstabilan geopolitik, fiksi menakutkan justru sedang berkembang pesat. Industri penerbitan dan perfilman horor mencatatkan pencapaian masif dengan mendominasi pasar domestik maupun global melalui berbagai karya baru yang relevan dengan ketakutan generasi saat ini.
Alasan Manusia Menyukai Ketakutan
Selama ini, anggapan umum menyatakan bahwa keinginan untuk mencari rasa takut berasal dari dorongan adrenalin saat menyaksikan film seram. Namun, riset menunjukkan bahwa banyak penggemar horor tidak semata-mata mencari sensasi tersebut, melainkan didorong oleh rasa penasaran yang wajar terhadap situasi berbahaya seperti cedera atau kematian.
Horor berfungsi sebagai laboratorium untuk pembelajaran diri. Sebagian penggemar horor merupakan kelompok yang ingin berlatih mengatasi ketakutan dan belajar mengenai reaksi diri dalam situasi penuh tekanan. Kelompok lainnya menikmati kisah menakutkan karena memberikan kesempatan aman untuk memproses perasaan cemas dan pikiran sulit, yang terbukti meningkatkan ketahanan psikologis.
Kecemasan Lintas Generasi dalam Fiksi Horor
Kapasitas imajinasi manusia memungkinkan terciptanya skenario terperinci mengenai berbagai kemungkinan buruk tanpa harus mengalami bahaya secara langsung di dunia nyata. Sepanjang sejarah, karya horor selalu mencerminkan kecemasan yang mendominasi setiap generasi.
Pada era 1940-an hingga 1950-an, ancaman bom atom melahirkan monster seperti Godzilla. Paranoia mengenai penyusup pada masa Perang Dingin terwujud dalam film Invasion of the Body Snatchers, sementara era modern memunculkan film-film bertema kesehatan mental dan isu sosial.
Pertumbuhan genre horor melonjak pesat, dari sekitar 150 film per tahun pada era 1980-an menjadi lebih dari 1.500 film per tahun pada dekade 2020-an. Film bertema gelap kini juga semakin konsisten mendapatkan pengakuan kritis dari Academy.
Manusia selalu mengandalkan simulasi melalui cerita untuk memproses rasa takut dan belajar dari kesalahan tokoh di dalam kisah tersebut. Memasuki era teknologi baru dengan segala potensi bahayanya, masyarakat akan terus memanfaatkan kisah horor yang baik sebagai sarana untuk bersiap dan mengatasi berbagai kekhawatiran di masa depan.
Sumber: TIME








