Daftar Isi
OpenAI dan Anthropic mengeklaim telah mematahkan hipotesis waktu eksponensial atau *exponential time hypothesis* (ETH). Penemuan kecerdasan buatan ini membuat sebagian besar riset ilmu komputer teoretis mengenai kompleksitas dan perancangan algoritma yang bertumpu pada asumsi tersebut menjadi tidak relevan.
Dampak Penemuan bagi Para Peneliti
Jonsson memperkirakan situasinya akan dirasakan oleh banyak orang pada Simposium IEEE tentang Fondasi Ilmu Komputer, tempat karya miliknya akan dipresentasikan oleh salah satu rekan penulisnya. “Orang-orang akan memulai pembicaraan: ‘ETH salah, separuh makalah saya tidak berfungsi,'” ujar Jonsson seperti dilaporkan WIRED, sambil menambahkan bahwa kejadian ini sarat pembelajaran.
Daniel Lokshtanov, seorang profesor di UC Santa Barbara, berencana bergabung dalam upaya membedah bukti-bukti tersebut. Ia memperkirakan hasil riset itu akan membuatnya keliru secara besar-besaran dan membuat sekitar 50 makalah yang telah ia terbitkan menjadi tidak berguna atau harus ditinjau ulang.
“Ini seperti bom raksasa yang dijatuhkan di tengah-tengah bidang keilmuan,” kata Lokshtanov kepada WIRED.
Thore Husfeldt, kepala kelompok riset algoritma di IT University of Copenhagen, telah menghabiskan sebagian besar tahun ini untuk memikirkan satu masalah khusus di bidangnya. “Sejauh yang saya tahu, semuanya kini tidak relevan,” ungkapnya kepada WIRED. Meski demikian, Husfeldt menyambut baik hasil baru tersebut dan memandangnya sebagai sebuah kemajuan yang sangat menarik.
“Menjadi seorang matematikawan mirip seperti meraba-raba di dalam ruangan yang gelap gulita,” jelas Husfeldt. “Ini seperti seseorang baru saja menerangi seluruh subbidang dengan lampu sorot pengetahuan, dan sekarang kita berlari-lari seperti kelinci yang terlalu bersemangat dan melihat semua sudut dan celah yang tiba-tiba dapat kita jelajahi.”
Tantangan di Tengah Lonjakan Konten
Kecerdasan buatan telah mempercepat proses ilmiah, memusnahkan program-program penelitian secara keseluruhan, dan membuat para peneliti merasa cemas. Husfeldt mengatakan bahwa departemennya bahkan mempertimbangkan untuk merekrut seorang psikolog okupasi karena sebagian peneliti merasa sangat sedih dan depresi akibat hasil riset yang diumumkan oleh kecerdasan buatan secara terus-menerus.
Para peneliti juga merasa kewalahan dengan volume konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Di tengah wawancara, Husfeldt menerima sebuah makalah 17 halaman dari akun Gmail acak yang mendiskusikan konsekuensi dari hasil ETH, meski ia memutuskan untuk tidak membacanya karena investasi waktu kognitif yang sangat besar.
OpenAI turut memicu situasi ini setelah sebelumnya merilis 722 naskah mengenai 400 masalah di GitHub, yang menuai keluhan dari para akademisi karena menyulitkan proses pencernaan hasil. Dokumen sepanjang 60 halaman milik OpenAI mengenai ETH kali ini dinilai ditulis dengan lebih baik dibandingkan publikasi-publikasi sebelumnya.
Implikasi Keamanan dan Langkah ke Depan
Victor Lagerkvist, seorang profesor madya di Linköping, menyatakan bahwa penemuan ini memberikannya kesempatan untuk kembali menekuni persoalan-persoalan yang sebelumnya ia tinggalkan akibat asumsi keakuratan ETH. Temuan OpenAI ini juga berpotensi memengaruhi kriptografi yang mendasari keamanan web, yang selama ini mengandalkan asumsi bahwa masalah matematika tertentu memerlukan waktu penyelesaian yang sangat lama.
“Kita ingin proses ilmiah yang terbuka mengidentifikasi kesalahpahaman kita tentang komputasi, khususnya karena banyak infrastruktur digital modern dibangun di atas asumsi tentang komputasi,” tambah Husfeldt.
Jonsson berencana meninjau kembali makalah-makalah miliknya dan orang lain yang bersandar pada kebenaran ETH. Ia merasa antusias untuk mempelajari rincian bukti dari OpenAI dan menerapkannya pada masalah-masalah baru.
“Saya tidak peduli apakah itu bukti yang ditulis oleh manusia, atau ditulis oleh AI, atau jika alien mengirimkan bukti ini kepada kita,” ujar Jonsson. “Jika itu benar, maka kita harus menggunakannya di masa depan.”
Sumber: WIRED








