Teknologi

Bos Instagram Sebut Sentimen Negatif AI Bakal Memburuk

Bos Instagram Sebut Sentimen Negatif AI Bakal Memburuk
Daftar Isi
  1. Sentimen Negatif yang Meningkat
  2. Tantangan Konten Berkualitas Rendah
  3. Kebijakan Pelabelan dan Kekhawatiran Kreator

Kepala Instagram, Adam Mosseri, memperkirakan gelombang kemarahan dan kecemasan publik terhadap teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan semakin memburuk dalam beberapa tahun mendatang. Berbicara dalam siniar Colin and Samir yang dikutip dari The Verge, Mosseri merespons tren penolakan AI di tengah masyarakat, termasuk mahasiswa yang menyoraki para pemimpin perusahaan teknologi saat acara wisuda.

Sentimen Negatif yang Meningkat

Mosseri menyatakan bahwa ketidaksukaan terhadap AI tidak hanya terbatas pada kalangan anak muda atau pekerja kreatif saja, melainkan dirasakan oleh banyak pihak secara luas. Menurutnya, frustrasi dan kemarahan tersebut akan terus berlanjut dan memunculkan tantangan tersendiri bagi banyak orang, baik yang berada di dalam maupun di luar industri teknologi.

“It’s not only getting worse, it’s going to continue to get worse. I think we’re going to see more frustration and anger, some of it founded, some of it unfounded, over the next couple of years, and that’s going to make it hard for a lot of people, not just in the industry,” ujar Mosseri.

Tantangan Konten Berkualitas Rendah

Terkait perlakuan terhadap pembuat konten AI di platformnya, Mosseri menyebut bahwa Instagram tidak memberikan peringkat yang berbeda, tetapi mempertanyakan masalah kualitas konten tersebut. Ia menilai terdapat banyak konten AI yang bagus, namun ada pula yang dikategorikan sebagai sampah atau slop, dan platformnya kemungkinan belum meranking konten AI sebaik konten non-AI. Kendati demikian, ia berpendapat bahwa istilah slop saat ini terlalu sering digunakan.

Instagram sendiri telah mulai menindak akun-akun yang dibuat menggunakan AI sejak Agustus lalu, menyusul peluncuran label khusus akun AI pada awal tahun ini. Meskipun demikian, konten palsu yang menyesatkan seperti deepfake tokoh terkenal masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan sepenuhnya di platform tersebut.

Kebijakan Pelabelan dan Kekhawatiran Kreator

Menanggapi maraknya disinformasi visual, Mosseri mengungkapkan bahwa perusahaannya sedang mencari solusi terkait konten palsu berbasis AI, meski ia menilai pelarangan total terhadap konten AI di platform tidak realistis untuk dilakukan. Platform media sosial tersebut kini mulai mewajibkan akun AI untuk memberi label pada konten mereka agar pengguna dapat membedakan materi yang asli dan buatan mesin.

Mosseri juga menyoroti berbagai ketakutan mendasar yang dirasakan oleh para kreator dan masyarakat, mulai dari kepemilikan konten yang digunakan untuk melatih model AI, masalah keamanan, hingga kekhawatiran kehilangan pekerjaan bagi kreator, insinyur, maupun matematikawan.

“I think people are concerned about a lot of things. I think they’re concerned about owning their content and models getting trained on their content. I think they’re concerned— there’s people who are concerned about safety. They’re concerned about job displacement, having AI displace whatever it is they do, if you’re a content creator or an engineer or a mathematician. I think there’s concerns about— I mean, fundamentally what I think it comes down to when you really have, like, a heart-to-heart with someone is a fear of being left behind in some way,” tutur Mosseri.

Sumber: The Verge

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *