Internasional

Iliana Yotova Menang Pilpres Bulgaria, Usung Isu Damai

Iliana Yotova Menang Pilpres Bulgaria, Usung Isu Damai
Daftar Isi
  1. Hasil Pemilu dan Kemenangan Telak Yotova
  2. Perpecahan Demografi dan Gaya Kampanye
  3. Isu Perang Ukraina dan Dampak Kawasan Laut Hitam
  4. Dampak Geopolitik bagi Uni Eropa dan NATO

Iliana Yotova keluar sebagai pemenang dalam pemilihan presiden putaran kedua di Bulgaria dengan perolehan suara mencapai 57,6 persen. Ia mengungguli rivalnya, Andrey Gyurov, yang hanya meraup 39,5 persen suara dalam kontestasi yang diwarnai perdebatan soal arah kebijakan luar negeri dan perang di Ukraina.

Hasil Pemilu dan Kemenangan Telak Yotova

Sebelum pemungutan suara putaran kedua berlangsung, Perdana Menteri Rumen Radev menyatakan kepada para pemilih bahwa pemilihan kali ini adalah penentuan antara perang dan perdamaian. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemilu putaran kedua telah berubah menjadi semacam referendum mengenai posisi negara dalam menghadapi konflik di Ukraina. Setelah hasil resmi diumumkan dan Yotova dipastikan menang secara meyakinkan, Radev menyatakan bahwa rakyat Bulgaria telah memilih perdamaian.

Kemenangan ini berbanding terbalik dengan dinamika pada putaran pertama ketika persaingan antarkandidat berlangsung sangat ketat. Saat kampanye dimulai pada 25 September, Yotova memimpin jajak pendapat dengan 44,5 persen sementara Gyurov tertinggal di angka 26,1 persen. Namun, dalam pemungutan suara putaran pertama, Yotova hanya mendapatkan 34,8 persen suara dan Gyurov membuntuti ketat dengan perolehan 31,95 persen.

Perpecahan Demografi dan Gaya Kampanye

Menurut sosiolog dan ilmuwan politik dari lembaga riset Trend, Dimitar Ganev, pemilu ini memperlihatkan adanya pembagian generasi dan wilayah yang jelas di kalangan pemilih Bulgaria. Pemilih muda berusia antara 18 hingga 40 tahun cenderung mendukung Gyurov, sedangkan kelompok usia di atas 40 tahun lebih memilih Yotova. Selain itu, Gyurov mendominasi perolehan suara di ibu kota Sofia, sementara Yotova unggul di kota-kota regional, wilayah lain, dan perdesaan.

Perbedaan tersebut juga tercermin dari strategi kampanye masing-masing kubu. Gyurov mengandalkan media sosial, sementara Yotova memilih berbicara langsung kepada para pendukung partai pemerintah Progressive Bulgaria di ruang tertutup. Dalam berbagai kesempatan kampanye, Yotova konsisten menentang bantuan militer ke Ukraina dan menolak melangkah lebih jauh dalam memusuhi Rusia.

Dalam sebuah unjuk rasa pada 6 Oktober, Yotova menegaskan bahwa tidak akan ada satu pun tentara Bulgaria yang dikirim ke Ukraina selama ia menjabat sebagai presiden. Padahal, berdasarkan Konstitusi Bulgaria, wewenang untuk mengirim pasukan ke luar negeri atau menyatakan perang berada di tangan parlemen, bukan presiden. Sepanjang kampanye, ia menjuluki para lawannya sebagai pihak yang menginginkan perang dan memposisikan dirinya sebagai presiden perdamaian.

Isu Perang Ukraina dan Dampak Kawasan Laut Hitam

Pandangan Yotova sejalan dengan Perdana Menteri Rumen Radev yang kerap menyerukan perdamaian tanpa pernah menyebut Rusia sebagai pihak agresor. Keduanya menentang bantuan militer ke Ukraina dan mengkritik para pemimpin Eropa yang dinilai kurang berupaya menjalin dialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebaliknya, Gyurov secara tajam mengkritik agresi Rusia di Ukraina dan sempat menandatangani perjanjian kerja sama keamanan dengan Ukraina pada bulan Maret lalu.

Ketegangan regional semakin terasa dalam beberapa minggu menjelang pemilu ketika sejumlah kapal di Laut Hitam, dekat pantai Bulgaria, terkena serangan pesawat tanpa awak. Dewan Eropa mengecam Rusia atas eskalasi tersebut, sementara Parlemen Eropa mendesak Uni Eropa mempertimbangkan pengerahan operasi angkatan laut. Seperti dilaporkan Deutsche Welle, Perdana Menteri Radev enggan menyalahkan Moskow dan menyatakan bahwa logika mengindikasikan serangan tersebut menguntungkan Federasi Rusia.

Menjelang pemilu putaran kedua, mayoritas partai oposisi, termasuk GERB pimpinan mantan perdana menteri Boyko Borisov, menolak mengajukan kandidat presiden. Hal tersebut menjadi salah satu faktor rendahnya tingkat partisipasi pemilih yang berada di bawah 30 persen. Pada putaran pertama, kandidat pro-Rusia Kostadin Kostadinov dari partai nasionalis Vazrazhdane menduduki peringkat ketiga dengan 12,5 persen suara, di mana sekitar 70 persen pendukungnya kemudian memberikan suara kepada Yotova pada putaran kedua.

Dampak Geopolitik bagi Uni Eropa dan NATO

Untuk mengamankan dukungan dari kelompok pro-Rusia, Yotova menyatakan dalam sebuah wawancara siniar bahwa Rusia bukanlah musuh Bulgaria melainkan bagian dari sejarah dan masa depan keamanan Eropa. Sejumlah pendukungnya bahkan menuduh kubu oposisi sedang merencanakan demonstrasi ala revolusi Ukraina tahun 2014 atau peristiwa Maidan. Tuduhan serupa juga dilontarkan oleh tokoh politik luar negeri seperti mantan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban dan mantan Presiden Serbia Aleksandar Vucic.

Mantan Menteri Pertahanan Todor Tagarev menilai narasi yang dibangun Yotova bertujuan memicu ketakutan akan perang demi meraih dukungan politik. Ia memperingatkan bahwa posisi Bulgaria di dalam Uni Eropa dan NATO akan berada dalam situasi yang lebih buruk di bawah kepemimpinan Yotova. Meskipun demikian, Dimitar Ganev berpandangan bahwa orientasi geopolitik negara tersebut tidak terancam karena lebih dari dua pertiga warga Bulgaria memiliki pandangan positif terhadap Uni Eropa dan tidak mempertanyakan keanggotaan aliansi tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *