Daftar Isi
Sebuah pesan audio dari pelaku penembakan terhadap aktor India Tiger Shroff di Mumbai awal bulan ini memperingatkan bahwa siapa pun di industri film yang tidak sejalan dengan kelompok mereka atau bekerja dengan Salman Khan akan dibunuh. Para pelaku yang diduga terhubung dengan gembong kriminal Lawrence Bishnoi mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut, kendati pihak kepolisian belum mengonfirmasi keterlibatan sindikat itu.
Gelombang Serangan Baru di Industri Film
Penembakan yang melukai sopir Shroff ini merupakan rentetan terbaru dari serangkaian serangan terhadap figur-figur terkemuka industri film Mumbai atau Bollywood. Sejak tahun 2022, penembakan juga terjadi di apartemen aktor Salman Khan, kediaman pembuat film Rohit Shetty di Mumbai, serta rumah keluarga aktris Disha Patani di India utara. Selain itu, aktor Ranveer Singh dilaporkan mendapat permintaan pemerasan hampir 1,1 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp17,3 miliar.
Ancaman tersebut bahkan meluas hingga ke luar negeri, termasuk sebuah kafe milik komedian Kapil Sharma di Surrey, Kanada, yang menjadi sasaran penembakan sebanyak tiga kali. Situasi ini membangkitkan kembali ketakutan lama bagi industri yang pernah hidup di bawah bayang-bayang kejahatan terorganisir pada era 1990-an. Namun, para ahli menyebut ancaman saat ini memiliki pola yang jauh berbeda dibandingkan tiga dekade silam.
Perbedaan dengan Sindikat Mafia 1990-an
Pada dekade 1990-an, dunia hitam Mumbai sangat lekat dengan industri film Hindi melalui tokoh-tokoh seperti Dawood Ibrahim, Abu Salem, dan Chhota Shakeel yang terobsesi dengan Bollywood untuk mencuci uang hasil kejahatan. Menurut jurnalis kriminal dan penulis S. Hussain Zaidi kepada Deutsche Welle (DW), penolakan kerja sama saat itu berujung pada kematian tokoh musik Gulshan Kumar pada tahun 1997 dan penembakan pembuat film Rakesh Roshan pada tahun 2000. Mantan Komisaris Polisi Mumbai D. Sivanandhan mencatat 1998 sebagai puncak kekerasan ketika 101 pebisnis tewas ditembak akibat pemerasan. Aparat kepolisian akhirnya berhasil mematahkan cengkeraman geng tersebut pada awal tahun 2000-an melalui undang-undang kejahatan terorganisir yang ketat.
Kini, sosok di balik gelombang serangan terbaru adalah Lawrence Bishnoi, seorang narapidana berusia 33 tahun asal Punjab yang mengendalikan operasinya dari balik jeruji besi menggunakan ponsel tersembunyi dan aplikasi pesan. Jurnalis Jupinderjit Singh menjelaskan kepada DW bahwa Bishnoi merekrut anak-anak muda miskin secara daring dengan iming-iming uang, perlindungan, dan senjata. Jaringan Bishnoi bahkan telah menjangkau dunia internasional, di mana Kanada menetapkan kelompok tersebut sebagai entitas teroris pada September 2025 dan FBI memasukkan buronan Goldy Brar ke dalam daftar sepuluh buronan paling dicari.
Motif di Balik Teror Bollywood
Motif penargetan bintang film oleh Bishnoi dinilai bersifat pribadi menyusul kasus perburuan antelop hitam yang dituduhkan kepada Salman Khan pada tahun 1998, yang disusul pembunuhan politisi Baba Siddique pada tahun 2024. Kendati demikian, faktor uang dan intimidasi tetap menjadi motif utama. Sivanandhan menyebut sindikat Bishnoi memperlakukan industri film seperti anjungan tunai mandiri atau ATM untuk mengeruk keuntungan dari industri yang kaya uang ini. Sementara itu, Zaidi berpandangan bahwa serangan-serangan tersebut lebih bertujuan untuk mencari publisitas guna menciptakan ketakutan sebagai dasar pemerasan.
Meskipun tingkat kekerasan saat ini dinilai belum separah era 1990-an karena adopsi transaksi digital yang menyulitkan persembunyian uang tunai, rasa takut tetap nyata dirasakan para pekerja film. Presiden All Indian Cine Workers Association (AICWA) Suresh Shyamlal Gupta telah mengirimkan surat kepada Menteri Dalam Negeri Amit Shah untuk memperingatkan bahwa nama-nama terkemuka mungkin terpaksa meninggalkan Mumbai jika ancaman terus berlanjut. Berbagai bintang Bollywood kini dilaporkan telah memperketat pengamanan pribadi mereka di tengah situasi yang masih belum mereda.
Sumber: Deutsche Welle








