Di tepi Teluk Neiden di wilayah paling utara Norwegia, Finnmark, Nils Boine memandang ke arah perairan yang terbelah oleh perbatasan negara. Sebagai keturunan masyarakat adat Sea Sámi, ia menyaksikan bagaimana kehidupan lintas batas yang telah terjalin selama bergenerasi kini semakin terpecah.
Kehidupan Lintas Batas yang Terganggu
Tanah air masyarakat Sámi yang bernama Sápmi membentang melintasi wilayah Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Semenanjung Kola di Rusia yang dijaga ketat secara militer. Sejak Norwegia dan Rusia menetapkan garis perbatasan pada tahun 1826, komunitas Sámi di kawasan tersebut telah terpisah oleh batas teritorial.
Komunitas di wilayah Arktik ini dihuni oleh perpaduan masyarakat Sámi, Norwegia, Finlandia, Ukraina, Rusia, dan pekerja musiman internasional. Sebagian besar populasi Sámi tinggal di Norwegia, sementara sekitar dua persennya menetap di Rusia.
Sebelumnya, masyarakat Sámi membangun gaya hidup lintas batas yang didukung oleh kebijakan fleksibel. Salah satunya adalah perjanjian antara Norwegia dan Rusia yang mengizinkan perjalanan bebas visa bagi warga yang tinggal dalam radius 30 kilometer dari garis perbatasan.
Dampak Perang di Ukraina
Namun, situasi keamanan mulai diperketat menyusul invasi skala penuh Rusia ke Ukraina. Negara-negara Barat memandang Finnmark sebagai bagian dari sisi utara NATO yang rentan karena berhadapan langsung dengan Semenanjung Kola.
Kini, birokrasi perbatasan menjadi kenyataan sehari-hari. Tradisi menggembala rusa kutub, revitalisasi bahasa, dan kegiatan berburu harus dijalani melalui berbagai izin serta regulasi yang membuat infrastruktur Arktik terasa semakin terfragmentasi.
“Saya punya teman-teman di Rusia,” ujar Boine kepada Al Jazeera. “Kami dulu biasa berbelanja di Rusia, dan pergi ke sana untuk akhir pekan.”
Sejak invasi Presiden Rusia Vladimir Putin ke Ukraina pada Februari 2022, perjalanan tersebut terhenti sebagian sebagai bentuk solidaritas dengan Ukraina dan sebagian lagi karena faktor keamanan. Penangkapan seorang pengusaha asal Kirkenes baru-baru ini membuat warga setempat merasa khawatir dan takut untuk melintasi perbatasan.
Selain itu, jumlah wisatawan Rusia yang berkunjung ke Norwegia juga merosot tajam dari 250.000 kunjungan pada 2019 menjadi 52.000 kunjungan pada tahun lalu, yang berdampak pada penurunan pendapatan toko-toko lokal di kawasan tersebut.
Bagi Boine, perang di Ukraina telah memaksa pertemanannya dengan warga di Rusia ditangguhkan untuk sementara waktu karena kekhawatiran akan keselamatan masing-masing.
“Mereka takut melakukan sesuatu yang salah atau menulis sesuatu yang salah,” ucapnya. “Anda tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi jika mereka memiliki kontak yang terlalu dekat. Saya ingin berhati-hati.”








