Daftar Isi
Pasar saham global mengalami penurunan tajam setelah para investor melakukan aksi jual besar-besaran terhadap saham sektor teknologi. Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa hasil pemilu sela di Amerika Serikat dapat memperlambat laju pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Penurunan nilai saham yang berawal di Amerika Serikat tersebut kemudian meluas ke bursa Asia dan Eropa hingga mengikis nilai pasar perusahaan teknologi utama.
Kerugian Besar di Bursa Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, indeks saham Nasdaq yang didominasi sektor teknologi merosot 5,5 persen pada Kamis. Penurunan tajam ini membuat Nasdaq kehilangan nilai pasar yang diperkirakan mencapai 2,5 triliun dolar AS (sekitar 1,9 triliun poundsterling). Kondisi tersebut menempatkan Nasdaq dalam wilayah koreksi, yakni istilah pasar ketika nilai indeks atau perusahaan mengalami penurunan minimal 10 persen dari titik tertinggi terbarunya.
Meskipun demikian, lonjakan harga saham teknologi dalam beberapa waktu terakhir yang didorong oleh tren AI membuat posisi Nasdaq saat ini masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, serta mencatatkan kenaikan sekitar 4,6 persen sejak awal tahun.
Aksi jual di bursa AS menyebabkan kelompok tujuh perusahaan teknologi terbesar, termasuk Apple, Nvidia, dan Tesla, kehilangan nilai pasar hingga 1 triliun dolar AS dalam satu hari perdagangan. Saham Nvidia tercatat merosot lebih dari 9 persen. Sementara itu, saham perusahaan milik Elon Musk, SpaceX dan Tesla, masing-masing anjlok 8 persen dan hampir 11 persen, yang memangkas lebih dari 300 miliar dolar AS dari nilai pasar gabungan kedua perusahaan tersebut.
Musk sebelumnya telah mengelurkan dana hampir 450 juta dolar AS untuk mendukung kampanye Partai Republik, termasuk setidaknya 45 juta dolar AS untuk pencalonan Ken Paxton di kursi Senat Texas. Namun, wilayah Texas beralih memenangkan Partai Demokrat dalam pemilu Selasa lalu.
Penurunan Meluas ke Asia dan Eropa
Tekanan di bursa AS merembet ke pasar saham Asia pada Jumat. Indeks Nikkei di Jepang ditutup melemah 6 persen akibat penurunan signifikan saham produsen cip memori Kioxia dan Tokyo Electron. Di Korea Selatan, indeks Kospi sempat merosot lebih dari 8 persen sehingga memicu mekanisme pembekuan perdagangan sementara (circuit breaker) untuk meredam aksi jual panik. Kospi akhirnya ditutup melemah 6 persen, dengan saham pembuat cip SK Hynix melorot lebih dari 10 persen.
Pasar saham Eropa turut mengalami penurunan pada Jumat, meski pelemahannya tidak sebesar di Asia karena porsi saham teknologi di indeks Eropa lebih sedikit. Indeks FTSE 100 di Inggris turun hampir 2 persen, sedangkan indeks Dax Jerman melemah 2,4 persen.
Kepala Pasar di AJ Bell, Dan Coatsworth, menjelaskan bahwa para investor khawatir terhadap besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk AI dengan “no clear idea of when, or whether, there will be payback”. Seperti dilaporkan BBC News, Coatsworth menilai hasil pemilu sela membuat situasi semakin tidak pasti karena Partai Demokrat kini memiliki pengaruh lebih besar yang dapat memperlambat pembangunan pusat data serta memberlakukan regulasi baru.
“The AI story has all been about speed, and now there is a danger of it moving to a lower gear, and some of the wheels falling off,” kata Coatsworth.
Regulasi Pusat Data dan Reaksi Politik
Kandidat dari Partai Demokrat di berbagai daerah AS berkampanye untuk memperlambat pertumbuhan pusat data dan pengembangan AI. Sejumlah kebijakan di tingkat daerah juga diusulkan untuk membatasi pembangunan fasilitas pusat data yang menjadi penopang utama teknologi tersebut. Kemenangan Partai Demokrat di Senat dan DPR AS memberi mereka kendali atas Kongres di sisa masa jabatan Presiden Donald Trump.
Melalui unggahan di media sosial X pada Kamis, Senator Partai Demokrat Bernie Sanders menyuarakan penolakannya terhadap ekspansi pusat data. “Americans don’t want Big Tech oligarchs wrecking the environment, gutting jobs and threatening humanity’s future. NATIONAL DATA CENTER MORATORIUM NOW,” tulis Sanders.
Sementara itu, Donald Trump menyalahkan hasil pemilu atas merosotnya bursa saham. Melalui media sosial pada Kamis, Trump menyebut pasar saham mengalami salah satu hari terburuk dalam sejarah akibat hasil pemilu tersebut. “Remember, it wasn’t Republicans, it was Dumocrats,” tulisnya. Ia menambahkan di platform Truth Social: “The Stock Market crashed today because the Dumocrats had a big Tuesday — So sad to see, you only have yourselves to blame!”
Namun pada Jumat, Trump menegaskan kembali dukungannya terhadap sektor AI dan menyatakan bahwa hanya kepemimpinan yang bodoh yang akan menolak hasil besar yang dihadirkan oleh teknologi tersebut.
Sejumlah pimpinan industri teknologi mengaku terkejut dengan penolakan publik terhadap pusat data. Presiden sekaligus salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman, menyatakan dalam konferensi WSJ Tech di Napa, California, seperti dilaporkan BBC News, bahwa industri harus lebih aktif bekerja sama dengan komunitas lokal. “A lot of our shift over the course of this year has really been to realise that from San Francisco trying to build infrastructure in Texas, Georgia, and other places, you can’t just tweet and say: ‘This is going to be good.’ You need to be in those communities,” ujar Brockman.
Sumber: BBC News








