Mantan Menteri Keuangan Rachel Reeves menyatakan bahwa masa depan Inggris seharusnya berada di dalam Uni Eropa, serta menilai Brexit telah membuat negara tersebut menjadi lebih miskin, lemah, dan kurang aman.
Pandangan tentang Masa Depan Hubungan dengan Eropa
Dalam intervensi publik pertamanya sejak meninggalkan Departemen Keuangan (Treasury), seperti dilaporkan BBC News, Reeves menyatakan dukungannya terhadap perdebatan mengenai hubungan Inggris dengan Eropa. Dalam tulisannya di surat kabar Sunday Times, ia mengungkapkan bahwa tidak ada pihak di Departemen Keuangan yang meragukan pendiriannya selama ini bahwa masa depan Britania Raya terletak di Uni Eropa.
Ia berpendapat bahwa pihak-pihak yang mendukung bergabungnya kembali Inggris dengan Uni Eropa harus mampu menyampaikan argumen yang kuat, menunjukkan manfaat nyata, serta mengambil langkah-langkah berikutnya dengan tepat. Pada saat yang sama, manifesto Partai Buruh pada pemilihan umum sebelumnya menyatakan bahwa pemerintahan dari partai tersebut akan tetap berada di luar Uni Eropa dan berupaya membuat Brexit berjalan efektif, dengan aturan yang melarang kembalinya kebebasan bergerak, keanggotaan pasar tunggal, maupun serikat pabean.
Respons Partai Politik dan Agenda Kerja Sama
Perdana Menteri Andy Burnham menyatakan perlunya diskusi jujur mengenai bentuk hubungan di masa depan dan menyebutkan bahwa perubahan apa pun memerlukan mandat dalam pemilihan umum yang dijadwalkan paling lambat tahun 2029. Di sisi lain, Partai Konservatif menyatakan tidak ada keinginan untuk mengulang perdebatan terkait Brexit, sementara pemimpin Reform UK, Nigel Farage, menilai tidak ada mandat bagi pemerintah untuk mengejar hubungan yang lebih erat dengan Uni Eropa.
Dalam tulisan yang sama, Reeves menyampaikan harapannya agar KTT Inggris-Uni Eropa yang akan datang dapat mengonfirmasi skema mobilitas pemuda yang telah ia dorong sejak menjabat. Ia juga mengharapkan kemajuan terkait keikutsertaan Inggris dalam skema Security Action for Europe (SAFE), sebuah program pengadaan pertahanan bersama Uni Eropa yang diumumkan pada bulan Maret lalu sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan pasca invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Selain membahas isu Eropa, Reeves turut membela kinerjanya selama menjabat dengan menekankan pentingnya keberanian pemerintah dalam membangun proyek infrastruktur berskala besar. Ia juga menggarisbawahi perlunya sikap yang realistis terhadap berbagai risiko dan manfaat yang akan ditimbulkan oleh kecerdasan buatan pada ekonomi negara maju.
Sumber: BBC News








