Kecerdasan buatan semakin sering diandalkan oleh para pendaki untuk merencanakan perjalanan mereka ke alam liar, namun hal ini memicu kekhawatiran dari petugas penyelamat. Sejumlah insiden menunjukkan bahwa panduan dari chatbot keliru, mulai dari pendaki yang tersesat di tebing hingga wisatawan yang mendirikan tenda di lokasi terlarang.
Kasus Pendaki yang Tersesat dan Salah Arah
Nick Meyers, manajer program US Forest Service di Mount Shasta Wilderness Climbing and Avalanche Center, menyatakan bahwa timnya pernah menyelamatkan tiga pemuda berusia 20 tahun yang terjebak akibat mengikuti instruksi yang tidak akurat. Walau mengakui para pemuda tersebut berusaha melakukan persiapan, ia menilai mereka terlalu mengandalkan teknologi. Dalam insiden lain, petugas menemukan seorang pengunjung mendirikan tenda di dekat tanda larangan karena meyakini anjuran kecerdasan buatan, serta seorang pria yang membawa peta hasil rekayasa kecerdasan buatan dengan fitur geografis yang salah.
Di British Columbia, sebuah kru helikopter menyelamatkan seorang remaja berusia 16 tahun dari sebuah tebing curam setelah menggunakan chatbot Claude buatan Anthropic untuk menyusun rencana perjalanan. Di Taman Nasional Grand Teton, Wyoming, Superintendent Chip Jenkins mencatat lonjakan persentase pengunjung yang mengaku memanfaatkan kecerdasan buatan untuk informasi perjalanan dari angka nol menjadi 26 persen dalam satu tahun terakhir.
Risiko Psikologis dan Kecenderungan Halusinasi
Chris Flathmann, profesor komputasi berpusat pada manusia di Clemson University, menjelaskan bahwa penggunaan kecerdasan buatan membawa risiko unik berupa halusinasi informasi yang disajikan secara meyakinkan dan fenomena penyerahan kognitif. Menurutnya, ketika manusia bekerja sama dengan sistem tersebut, mereka dapat berhenti berpikir secara kritis terutama pada topik yang tidak mereka kuasai. Chatbot juga cenderung menyampaikan jawaban dengan nada otoritatif tanpa memperdulikan keandalan sumber yang diserap dari percetakan forum daring atau video lama yang keliru.
Para ahli mengingatkan bahwa meskipun media sosial menawarkan inspirasi, kecerdasan buatan memberikan instruksi langsung yang kerap kali keliru namun tetap bernada mendorong. Terlepas dari perangkat apa pun yang digunakan, para ahli menyarankan agar para pelancong selalu memverifikasi informasi melalui peta resmi instansi lahan publik, situs web asosiasi jalur pendakian, panduan tepercaya, atau berkonsultasi langsung dengan petugas taman nasional.
Sumber: WIRED








