Kanselir Jerman Friedrich Merz menyerukan penguatan sistem perdagangan global dan tatanan ekonomi berbasis aturan saat menutup rangkaian kunjungan kerjanya di Asia. Berbicara pada Konferensi Bisnis Asia-Pasifik Jerman di Seoul, Korea Selatan, Jumat (30/10), Merz memperingatkan agar rantai pasokan global tidak dijadikan instrumen politik dalam persaingan geopolitik.
Ancaman Persaingan AS-China dan Inisiatif Perdagangan Bebas
Dalam pidatonya di Seoul, Merz menyoroti persaingan yang semakin ketat antara Amerika Serikat dan China. Ia menilai penerapan tarif, strategi pemutusan hubungan teknologi, serta perebutan bahan baku kritis dan teknologi baru telah mengubah aturan dasar ekonomi global secara mendasar. Perubahan sistemik ini dinilai berdampak langsung pada negara-negara berkembang di kawasan Indo-Pasifik maupun di Eropa.
Kanselir Jerman menegaskan bahwa Uni Eropa siap mengambil peran utama dalam membentuk kesepakatan yang lebih baik bagi negara-negara Asia. Seperti dilaporkan Deutsche Welle, Merz menyatakan bahwa ketika rantai pasok dijadikan alat politik dan akses terhadap teknologi kunci dihalangi, hal tersebut dapat mengancam pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, serta keamanan seluruh kawasan.
Sebelum tiba di Korea Selatan, Merz telah mengunjungi Singapura dan Jepang untuk mendorong kemitraan perdagangan bebas. Saat berada di Singapura pada Rabu, ia mengusulkan pembentukan perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan blok CPTPP (Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership). Saat ini, Inggris menjadi satu-satunya negara Eropa yang menjadi anggota CPTPP, sementara Amerika Serikat menarik diri pada 2017 pada era kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Kerja Sama Ekonomi dan Agenda Diplomasi Steinmeier
Perdana Menteri Korea Selatan Han Seong Sook menyambut positif hubungan ekonomi kedua negara dalam konferensi tersebut. Ia menjelaskan bahwa banyak perusahaan Jerman yang menjadikan Korea Selatan sebagai hub sentral untuk memperluas ekspansi bisnis mereka di seluruh wilayah Asia-Pasifik.
Di samping agenda ekonomi Merz, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier juga melakukan kunjungan diplomasi ke Asia pada pekan yang sama. Steinmeier dijadwalkan mengadakan pertemuan resmi dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk mendiskusikan Isu-isu strategis. Di dalam negeri Jerman, perhatian publik juga mulai tertuju pada agenda pemilihan kepala negara berikutnya, di mana muncul dorongan kuat agar Jerman memilik presiden perempuan pertama, meski Merz belum menyatakan sikap resminya terkait hal tersebut.








