Daftar Isi
Raksasa teknologi Microsoft melaporkan lonjakan laba kuartalan hingga melampaui USD 36,6 miliar atau setara Rp 581,8 triliun pada tiga bulan yang berakhir September. Pengumuman keuangan ini disampaikan hanya berselang beberapa hari setelah perusahaan mengumumkan rencana pemangkasan tenaga kerja secara signifikan.
Fokus Investasi Kecerdasan Buatan
Pengembang sistem operasi Windows tersebut menyampaikan rencana untuk menawarkan program pengunduran diri kepada sekitar 60.000 karyawannya guna menekan biaya operasional. Langkah efisiensi ini diambil seiring komitmen perusahaan menggelontorkan dana miliaran dolar untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Seperti halnya perusahaan teknologi besar lain seperti Amazon, Meta, dan Alphabet, Microsoft turut jorjoran berinvestasi pada infrastruktur pendukung AI yang tahun ini diperkirakan menelan biaya lebih dari USD 700 miliar di tingkat industri.
Kendati demikian, para investor masih menyoroti keberlanjutan dari pengeluaran masif di sektor kecerdasan buatan tersebut. Saham Microsoft sendiri tercatat mengalami kenaikan hampir 2,9 persen dalam perdagangan setelah jam kerja di New York pada Rabu (28/10).
Pertumbuhan Pendapatan dan Risiko Keuangan
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Rabu, pendapatan kuartalan Microsoft meningkat 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi USD 92,3 miliar. Lonjakan tersebut ditopang oleh kinerja yang kuat pada lini bisnis komputasi awan, di mana pendapatan Microsoft Cloud melonjak hingga 30 persen.
Di sisi lain, perusahaan tetap mengingatkan adanya sejumlah risiko, termasuk penanaman modal yang besar di bidang kecerdasan buatan serta berbagai ketidakpastian lain yang berpotensi memengaruhi kondisi keuangan mereka. Kepala Eksekutif Microsoft Satya Nadella menyatakan bahwa pengembangan AI telah memperluas adopsi teknologi serta memberikan dampak nyata di berbagai sektor industri.
Restrukturisasi Tenaga Kerja Global
Perusahaan menjelaskan bahwa penawaran pengunduran diri sukarela ini diperuntukkan bagi karyawan yang memenuhi syarat di berbagai tim di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan India demi menyesuaikan tenaga kerja dengan kebutuhan yang terus berubah. Program tersebut diklaim bakal menciptakan fleksibilitas yang lebih besar bagi perusahaan sekaligus memberikan dukungan finansial serta sumber daya perencanaan karier bagi pegawai yang meninggalkan perusahaan, seperti dilaporkan BBC News. Saat ini, Microsoft mempekerjakan lebih dari 220.000 orang di seluruh belahan dunia.
Kinerja keuangan Microsoft yang melampaui ekspektasi ini berbanding terbalik dengan kondisi Alphabet selaku induk usaha Google yang justru mengecewakan para investor. Saham Alphabet merosot 9,75 persen usai mencatatkan penurunan laba bersih kuartalan sebesar 25 persen secara tahunan, kendati perusahaan tersebut menegaskan bakal tetap melanjutkan belanja besar-besaran untuk teknologi kecerdasan buatan.
Sumber: BBC News








