Daftar Isi
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengumumkan bahwa dirinya akan mundur dari jabatannya lebih awal sebelum masa tugasnya resmi berakhir. Langkah ini disampaikan secara mendadak di tengah persiapan bank sentral menggelar pertemuan penting.
Keputusan Mundur dan Proses Pengganti
Pihak ECB menyampaikan melalui sebuah pernyataan resmi bahwa Christine Lagarde telah memberitahu Dewan Pengatur serta Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengenai keputusannya untuk melepas jabatan pada 7 Februari 2027. Masa jabatan Lagarde yang dimulai sejak 1 November 2019 sedianya baru akan rampung pada akhir Oktober 2027.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyatakan bahwa proses untuk mencari pengganti Lagarde akan segera dimulai tanpa penundaan. Pemimpin ECB sendiri dipilih oleh para pemimpin dari 21 negara zona euro.
Meskipun tidak ada alasan khusus yang diungkapkan atas keputusannya untuk pergi lebih awal, terdapat spekulasi bahwa langkah ini diambil agar para pemimpin Uni Eropa dapat memilih penerusnya sebelum pemilu di Prancis pada musim semi mendatang, yang berpotensi dipengaruhi oleh kemenangan kubu sayap kanan yang euroskeptis.
Pujian Atas Kepemimpinan Selama Krisis
Antonio Costa memberikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Lagarde selama tujuh tahun memimpin ECB, sebuah kurun waktu ketika Uni Eropa dan dunia dihadapkan pada berbagai tantangan besar. Melalui media sosial, Costa memuji bagaimana Lagarde mampu menghadirkan kemudi yang stabil dan teguh dalam menjaga stabilitas serta ketahanan kawasan euro di tengah pandemi global, perang di daratan Eropa, krisis energi, serta gejolak inflasi.
Lagarde, yang merupakan seorang ekonom asal Prancis serta mantan Menteri Keuangan Prancis dan mantan Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) periode 2011 hingga 2019, turut mengungkapkan rasa puas atas pencapaian kinerjanya. Dalam sebuah video singkat di media sosial, Lagarde menyatakan bahwa ia meninggalkan institusi tersebut dengan perasaan tugas telah tertunaikan dengan baik dan ECB kini berada dalam kondisi yang siap menghadapi masa depan.
Fokus Pertemuan Suku Bunga dan Krisis Prancis
Pengumuman mundurnya Lagarde bertepatan dengan agenda pertemuan ECB pekan ini, di mana bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga deposito pada level 2,5 persen sekaligus mengisyaratkan potensi kenaikan kembali sebelum penghujung tahun. Sebelumnya, bank sentral telah menaikkan suku bunga sebanyak dua kali sejak bulan Juni demi meredam inflasi yang tersulut oleh guncangan energi akibat perang Iran.
Di samping itu, pertemuan hari Kamis juga diprediksi akan mencurahkan perhatian pada krisis fiskal dan politik yang melanda Prancis sebagai ekonomi terbesar kedua di Eropa. Imbal hasil obligasi Prancis, yang mencerminkan biaya pinjaman pemerintah, sempat melonjak ke posisi tertinggi dalam 25 tahun terakhir pada pekan lalu di tengah jalan buntu pembahasan anggaran tahun depan.
Situasi tersebut kian pelik menyusul aksi unjuk rasa baru-baru ini yang diwarnai kekerasan, di mana para demonstran menuntut peningkatan anggaran untuk pelayanan publik. Sejumlah pihak sempat berspekulasi apakah ECB akan memanfaatkan Instrumen Perlindungan Transmisi (TPI) untuk kali pertama, yakni sebuah instrumen penanggulangan krisis yang memungkinkan bank membeli obligasi anggota zona euro apabila imbal hasil melambung tak terkendali dan memicu risiko penularan tekanan finansial. Kendati demikian, sebagian besar pengamat menilai berbagai permasalahan di Prancis saat ini belum memenuhi persyaratan ketat untuk penggunaan instrumen tersebut.
Sumber: Deutsche Welle








