Daftar Isi
Kimi Antonelli mengukir sejarah sebagai juara dunia termuda sepanjang sejarah Formula 1 setelah menuntaskan Balapan Utama GP Meksiko di posisi ketiga. Pembalap Mercedes berusia 20 tahun tersebut menyentuh garis finis di belakang Max Verstappen dari Red Bull dan Lewis Hamilton dari Ferrari, sebelum diangkat tinggi-tinggi oleh Hamilton dalam perayaan kemenangannya.
Pencapaian Bersejarah dan Sambutan Penghormatan
Gelar ini membuat Antonelli menjadi pembalap asal Italia pertama yang meraih kejuaraan dunia F1 sejak tahun 1953. Seperti dilaporkan Al Jazeera, insinyur balap Antonelli, Peter “Bono” Bonnington—yang pernah mendampingi juara dunia tujuh kali Michael Schumacher dan Lewis Hamilton—menilai sang pembalap muda sebagai talenta luar biasa lintas generasi. Bonnington mengaku merasa terhormat bisa bekerja dengannya, meski sering menjadi sasaran aksi jahil Antonelli yang gemar bermain tembakan air.
Antonelli mengungkapkan perasaannya dapat berdiri di atas podium bersama dua juara dunia dengan banyak gelar, Verstappen dan Hamilton. Ia menuturkan bahwa momen tersebut sangat luar biasa dan bertekad untuk terus bersaing dengan mereka di masa mendatang. Menurutnya, pencapaian ini baru langkah awal untuk terus belajar dan mengincar gelar-gelar berikutnya.
Dukungan Keluarga dan Perjalanan Karier
Dunia balap motor sudah menjadi bagian hidup Antonelli sejak kecil. Saat belum genap berumur 10 tahun, ia sudah duduk di pangkuan ayahnya, Marco Antonelli, untuk mengendalikan kemudi dan mengoper kelipatan gigi mobil Lamborghini di lintasan balap, sementara sang ayah mengendalikan pedal gas dan rem. Pada usia delapan tahun, ayahnya bahkan menyelinapkannya ke area paddock F1 dengan menyembunyikannya di dalam tumpukan ban berpayung.
Meski demikian, ibunya, Elisabetta, memilih jauh dari sorotan publik. Marco, yang merupakan mantan pembalap sekaligus kepala tim, sempat menolak keinginan putranya berkarir di balap mobil karena menganggap cabang olahraga ini sangat keras dan berisiko tinggi secara finansial tanpa dukungan sponsor yang tepat. Namun, Antonelli menyebut ayahnya mengajarkan banyak hal tentang balapan dan kehidupan, serta menjadi sosok penting yang selalu mendampinginya di arena balap.
Pemandu bakat Mercedes, Gwen Lagrue, menemukan bakat Antonelli dan memasukannya ke program pembalap muda saat ia berusia 11 tahun, dengan Hamilton bertindak sebagai mentornya. Sebelum naik ke level F1, Antonelli mendominasi ajang karting pada 2020 dan 2021, menjuarai F4 Italia dan Jerman pada 2022, serta Formula Regional pada 2023. Ia kemudian langsung melompat ke Formula 2 pada 2024 dan finis di peringkat keenam, sebelum akhirnya dipromosikan ke F1 untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Hamilton.
Pada musim pertamanya di F1, Antonelli berhasil meraih peringkat kedua di Sao Paulo dan mengamankan dua podium lainnya hingga finis ketujuh di klasemen akhir. Bos tim Mercedes, Toto Wolff, menjelaskan bahwa Antonelli harus beradaptasi dengan tekanan media dan ekspektasi besar di musim perdananya. Di luar lintasan, kepribadian Antonelli yang ceria dan humoris menjadikannya idola di lingkungan paddock. Ucapan selamat pun mengalir dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni hingga atlet tenis Jannik Sinner.
Enam Seri Penentu Gelar Juara Dunia
Perjalanan Antonelli merengkuh gelar juara dunia F1 diwarnai sejumlah momen krusial sepanjang musim:
- 15 Maret (China): Di usia 19 tahun, ia menjadi pembalap termuda yang meraih pole position sekaligus memenangkan grand prix pertamanya, menjadi pemenang balapan F1 termuda kedua setelah Verstappen.
- 24 Mei (Kanada): Antonelli mencatatkan kemenangan keempat berturut-turut. Rekan setimnya, George Russell, terpaksa mengakhiri balapan di lap ke-30 akibat kerusakan unit daya, yang memperlebar jarak poin di antara mereka.
- 7 Juni (Monaco): Start dari posisi terdepan, ia meraih kemenangan kelima secara beruntun di sirkuit jalan raya Monaco dan memimpin klasemen dengan keunggulan lebih dari 60 poin atas Hamilton dan Russell.
- 6 September (Italia): Memasuki usia 20 tahun, Antonelli harus mengawali balapan dari posisi ke-19 akibat penalti mesin. Namun, ia berhasil menyalip barisan pembalap lain hingga melewati Russell untuk menjadi pembalap Italia pertama yang menang di kandang sendiri sejak Ludovico Scarfiotti 60 tahun lalu.
- 26 September (Azerbaijan): Antonelli mengalami insiden menabrak dinding saat kualifikasi dan harus memulai dari posisi bawah. Meski gagal naik podium, ia mampu finis kelima dan menjaga posisinya di puncak klasemen.
- 4 Oktober (Malaysia): Antonelli finis di posisi kedua di belakang Verstappen. Kegagalan finis Russell di akhir balapan membuat keunggulan poin Antonelli melonjak menjadi 84 poin, mengunci peluang rekannya dan menandai era baru Formula 1.
Kepastian gelar juara dunia tersebut akhirnya digenggam Antonelli setelah menyelesaikan balapan di GP Meksiko dengan bertengger di posisi ketiga.








