Politik

Teror SMS Politik di AS: Pengalaman Seseorang Dihujani Pesan

Teror SMS Politik di AS: Pengalaman Seseorang Dihujani Pesan
Daftar Isi
  1. Teror Pesan Beruntun dan Upaya yang Gagal
  2. Jejak Digital dan Peran Perusahaan Data
  3. Tanggapan Perusahaan dan Cara Menghentikannya

Pesan singkat penggalangan dana politik di Amerika Serikat sering kali datang dalam jumlah masif, bernada dramatis, dan sangat mengganggu. Seorang penulis WIRED melaporkan telah menerima 725 pesan teks politik sepanjang tahun, akibat nomor teleponnya tertukar dengan kerabatnya yang pernah berdonasi.

Teror Pesan Beruntun dan Upaya yang Gagal

Pesan-pesan tersebut datang di tengah kesibukan harian, mulai dari mengemudi hingga memasak, dengan berbagai narasi mendesak seolah figur terkenal seperti Barack Obama, Bill Clinton, hingga Joe Biden membutuhkan bantuan segera. Dalam 20 hari pertama bulan Oktober saja, tercatat lebih dari 190 pesan masuk, bahkan mencapai 21 pesan dalam satu hari pada 14 Oktober.

Sebagian besar pesan tersebut sebenarnya ditujukan kepada seorang kerabat yang disebut sebagai John—yang tinggal di California dan pernah memberikan donasi politik dalam jumlah kecil. Sementara itu, sang penulis tinggal di New York dan tidak pernah sama sekali memberikan donasi politik. Kendati nama, nomor telepon, dan rekening bank mereka berbeda, industri penggalangan dana politik kerap salah mengidentifikasikannya.

Berbagai upaya penghentian telah dilakukan, mulai dari membalas pesan dengan kata “STOP” sebanyak 49 kali sejak 2021 hingga membalas makian ketika dikirimi pesan atas nama tokoh-tokoh besar. Namun, upaya tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil, dan pesan dari berbagai nomor berbeda tetap berdatangan.

Jejak Digital dan Peran Perusahaan Data

Berdasarkan penelusuran tautan yang disertakan dalam pesan-pesan tersebut, sebagian besar mengarah ke platform pemrosesan donasi Demokrat bernama ActBlue. Banyak dari tautan itu membawa kode pelacakan yang memuat singkatan kampanye peer-to-peer serta penyewaan daftar kontak, di mana salah satu kata yang kerap muncul adalah Sterling.

Perusahaan yang dimaksud adalah Sterling Data Company, sebuah firma yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu politisi Partai Demokrat menemukan calon donor potensial. Menurut laporan Forbes tahun 2022, Sterling menghimpun database sekitar 30 juta donor politik beserta ratusan detail pribadi, yang kemudian dijual atau disewakan kepada berbagai komite aksi politik (PAC) dan tim kampanye.

Catatan Komisi Pemilihan Umum Federal (FEC) menunjukkan bahwa komite penggalangan dana gabungan Biden serta Komite Kampanye Senatorial Demokrat (DSCC) telah menggelontorkan jutaan hingga ratusan ribu dolar kepada Sterling untuk pembelian daftar donor. Kucuran dana tersebut bertepatan dengan gelombang pesan teks bertanda khusus Sterling yang masuk ke ponsel penulis.

Tanggapan Perusahaan dan Cara Menghentikannya

CEO Sterling Data Company, Martin Kurucz, menyatakan kepada WIRED bahwa permintaan sumbangan dengan frekuensi tinggi merupakan sebuah keharusan yang wajar dalam dunia politik. Menurutnya, karena hanya sedikit orang yang mau menyumbang, setiap kampanye harus mengejar donor yang sama dan pengiriman pesan secara massal dinilai sangat efektif.

Meskipun menolak membahas data kepunyaan perusahaannya secara rinci, Kurucz mengonfirmasi bahwa Sterling menangani sendiri pengiriman pesan tersebut dan dapat menyewakan data yang sama ke beberapa kampanye sekaligus. Ia mengeklaim tidak ada pangkalan data kontak yang sempurna, namun kecocokan tingkat sedang pun sudah cukup akurat untuk digunakan karena nomor yang salah biasanya akan berhenti merespons.

Kurucz tidak secara tegas mengonfirmasi maupun membantah apakah perusahaannya menjadi penyebab utama kekacauan pengiriman pesan yang dialami penulis. Sebagai solusi agar pesan-pesan tersebut berhenti, ia menyarankan agar penerima tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap pesan yang masuk.

Sumber: WIRED

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *