Pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, menyatakan bahwa negaranya sedang bergerak menuju pemilihan umum presiden pada 2027 yang didukung oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan di Caracas setelah ia kembali dari masa pengasingan selama 10 bulan.
Machado menegaskan bahwa proses transisi menuju demokrasi di Venezuela sudah tidak dapat diubah lagi. Menurutnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio telah menyusun rincian tahapan untuk transisi demokrasi tersebut, termasuk penyelenggaraan pemilu presiden pada 2027. “Tanggal pemilihan umum adalah tanggal pembebasan,” ujar Machado saat berbicara di Caracas, seperti dilaporkan Deutsche Welle.
Selain membahas jadwal pemilu, Machado menyampaikan bahwa prioritas utamanya mencakup pembongkaran sistem represif di negaranya serta membebaskan ribuan tahanan politik. Ia juga membantah telah melakukan komunikasi dengan Presiden Sementara Delcy Rodriguez. Sesaat sebelum Machado menyampaikan keterangannya, Rodriguez mengumumkan bahwa pemilu memang akan digelar di Venezuela, meski tanpa merinci tanggal pastinya.
Sikap terhadap Trump dan Perjanjian Minyak
Dalam kesempatannya, Machado menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas langkah-langkah yang diambil pada 3 Januari lalu, yang dinilainya membantu membuka jalan menuju kebebasan di Venezuela. Pernyataan tersebut merujuk pada penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro oleh otoritas Amerika Serikat atas tuduhan perdagangan narkoba dan penyiksaan, tuduhan yang telah dibantah oleh Maduro.
Meski mendukung tindakan Amerika Serikat terhadap Maduro, Machado melontarkan kritik atas kesepakatan minyak skala besar yang disepakati antara Washington dan Caracas pada awal tahun ini. Berdasarkan perjanjian tersebut, Venezuela diperkirakan akan memasok 20 persen cadangan minyaknya ke Amerika Serikat. Machado menilai kesepakatan tersebut tidak mencerminkan transparansi yang diinginkan oleh masyarakat Venezuela.
Di sisi lain, Machado memilih tidak menjawab pertanyaan terkait pernyataan Trump pada Januari lalu yang menyebut dirinya tidak memiliki cukup dukungan untuk langsung memimpin Venezuela. Ia juga enggan mengomentari gagasan Trump pekan ini mengenai kemungkinan Venezuela menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Dilema Diplomatik Amerika Serikat
Sebelumnya, Machado dilarang berpartisipasi dalam pemilihan umum presiden 2024. Ia kemudian mengalihkan dukungannya kepada kandidat oposisi Edmundo Gonzalez, yang menurut para pendukungnya meraih kemenangan besar meskipun otoritas pemilu menetapkan Maduro sebagai pemenang.
Kepulangan Machado setelah hampir satu tahun berada di luar negeri menambah kerumitan bagi posisi diplomatik Washington. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan Machado memiliki hak penuh untuk berada di Venezuela, tetapi di saat bersamaan juga melayangkan pujian kepada Presiden Sementara Delcy Rodriguez.
Sumber: Deutsche Welle








