Internasional

Kaitan Antara Rasa Jijik dan Keyakinan Politik Seseorang

Kaitan Antara Rasa Jijik dan Keyakinan Politik Seseorang
Daftar Isi
  1. Tiga Jenis Rasa Jijik
  2. Perbedaan Reaksi antara Liberal dan Konservatif
  3. Peran Kesadaran Tubuh dalam Politik
  4. Pengaruh Politik dan Polarisasi

Sejumlah penelitian mengaitkan sensitivitas terhadap rasa jijik dengan sikap sosial yang konservatif. Kendati demikian, para peneliti masih mendalami bagaimana rasa jijik membentuk politik atau apakah keyakinan politik justru menentukan apa yang dianggap menjijikkan.

Tiga Jenis Rasa Jijik

Berdasarkan Three-Domain Disgust Scale yang dikembangkan pada 2009, rasa jijik dibagi menjadi tiga jenis, yaitu jijik patogen terhadap sumber infeksi seperti makanan busuk, jijik seksual terhadap perilaku atau situasi seksual tertentu, serta jijik moral terhadap perbuatan salah seperti pengejual atau kekejaman. Psikolog Yoel Inbar dari University of British Columbia menjelaskan kepada Deutsche Welle bahwa rasa jijik pada awalnya berkembang untuk mengurangi paparan terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan penyakit. Namun, orang yang sangat berhati-hati terhadap kuman dan penyakit kerap memilih aturan sosial yang tradisional. Walau demikian, Inbar menyatakan bahwa bukti yang menghubungkan sensitivitas jijik dengan pandangan politik konservatif masih belum pasti.

Perbedaan Reaksi antara Liberal dan Konservatif

Rasa jijik tidak hanya dimiliki oleh kelompok konservatif saja. Sebuah studi pada 2020 menunjukkan bahwa kaum liberal dan konservatif merasa jijik terhadap hal-hal yang berbeda. Kalangan konservatif melaporkan rasa jijik yang lebih besar pada perilaku seksual dan penggunaan narkoba, sedangkan kaum liberal merasa jijik pada penyiksaan hewan dan pencemaran lingkungan. Di sisi lain, peneliti Manos Tsakiris dari Royal Holloway dan Centre for the Politics of Feelings menyoroti pertanyaan mengenai alasan perasaan tubuh dapat berbeda antar kelompok politik meskipun reaksi fisik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Peran Kesadaran Tubuh dalam Politik

Tsakiris bersama rekannya, Mariana von Mohr, meneliti persepsi sinyal internal tubuh yang disebut interosepsi dengan mensurvei 632 orang dewasa di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang lebih mudah merasa jijik karena perilaku seksual cenderung bersikap konservatif, tanpa memandang tingkat kesadaran tubuh mereka. Sementara itu, kaitan antara jijik moral dan konservatisme hanya ditemukan pada orang yang melaporkan kesadaran tubuh yang lebih rendah. Inbar berpendapat bahwa pengukuran jijik patogen lebih berguna daripada jijik seksual karena pertanyaan mengenai jijik seksual dinilai sudah mencerminkan keyakinan politik itu sendiri.

Pengaruh Politik dan Polarisasi

Tsakiris mengemukakan bahwa orang yang kesulitan memahami perasaan tubuhnya sendiri bisa jadi lebih rentan terhadap pesan politik yang mendikte arti dari perasaan tersebut. Menurutnya, cara kerja politik memanfaatkan rasa jijik adalah dengan mengubah penilaian moral tentang individu menjadi penilaian terhadap kelompok secara keseluruhan. Meski demikian, peneliti Bert Bakker mencatat bahwa perilaku memilih dalam pemilu sangatlah kompleks dan keyakinan politik dapat memengaruhi cara seseorang mendeskripsikan kepribadian mereka sendiri, yang berarti hubungan di antara keduanya bisa berjalan dua arah.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *