Teknologi

Binance Diretas, Aset Kripto Rp114,3 Triliun Raib Dicuri

Binance Diretas, Aset Kripto Rp114,3 Triliun Raib Dicuri
Daftar Isi
  1. Dugaan Keterlibatan Korea Utara
  2. Kronologi dan Celah Keamanan
  3. Pemulihan Aset dan Respons Industri

Bursa mata uang kripto terbesar di dunia, Binance, mengalami peretasan yang mengakibatkan hilangnya aset kripto senilai US$6,3 miliar atau setara Rp114,3 triliun. Peristiwa tersebut dinilai sebagai pencurian kripto terbesar sepanjang sejarah industri ini.

Dugaan Keterlibatan Korea Utara

Dua perusahaan analitik mengaitkan serangan tersebut dengan unit peretasan asal Korea Utara bernama TraderTraitor. Perusahaan keamanan siber Check Point menyatakan bahwa kelompok tersebut juga dikenal sebagai Lazarus Group, yang sebelumnya dituduh bertanggung jawab atas peretasan pada tahun 2025. Perusahaan investigasi TRM Labs menyebutkan bahwa beberapa elemen serangan Binance menyerupai insiden terdahulu yang melibatkan Korea Utara, termasuk peretasan bursa Bybit.

Ari Redbord selaku kepala kebijakan global TRM Labs mengatakan kepada BBC News Indonesia bahwa peradangan dan peretasan ini merupakan momen penting yang belum pernah terjadi sebelumnya. Redbord menambahkan bahwa para pelaku masih menyimpan sebagian besar aset curian, sehingga upaya pelacakan dan pemulihan dana masih membutuhkan waktu panjang. Senada dengan hal tersebut, perusahaan analitik Chainalysis menyatakan memiliki keyakinan tinggi bahwa kelompok Korea Utara berada di balik serangan ini.

Lembaga keamanan negara-negara Barat sebelumnya menyatakan bahwa dana hasil curian tersebut digunakan untuk mendanai program pengembangan senjata nuklir dan rudal Korea Utara. Sementara itu, Pemerintah Korea Utara secara konsisten membantah keterlibatan mereka dalam berbagai peretasan sebelumnya. Pihak Binance sendiri tidak memberikan tanggapan langsung kepada BBC News Indonesia mengenai potensi keterkaitan Korea Utara, namun menegaskan bahwa mereka bekerja sama erat dengan penegak hukum untuk mengonfirmasi identitas para pelaku dan membawa mereka ke pengadilan.

Kronologi dan Celah Keamanan

CEO Binance, Richard Teng, menjelaskan bahwa penyelidikan awal menunjukkan insiden bermula dari peretasan terhadap laptop seorang staf teknis. Pelaku berhasil masuk ke dalam kontainer layanan untuk mengirimkan transaksi penarikan dana tanpa izin. Teng menegaskan bahwa penyerang tidak hanya mengandalkan izin satu staf saja dan proses serangan tersebut berlangsung secara kompleks tanpa melibatkan kebocoran kunci pribadi dompet.

Jayant Dave selaku kepala bagian keamanan informasi Check Point menyatakan bahwa kerugian besar ini menjadikan insiden Binance sebagai pencurian kripto terbesar dalam sejarah, melampaui rekor peretasan Bybit senilai US$1,5 miliar pada tahun 2025. Dave menambahkan bahwa serangan ini memiliki kemiripan dengan peretasan platform Bitget pada bulan September lalu, yang mengindikasikan bahwa penyerang kini menargetkan sistem dan orang-orang yang berwenang alih-alih kunci brankas.

Pemulihan Aset dan Respons Industri

Pihak Binance menyatakan bahwa sekitar setengah dari aset yang dicuri telah berhasil dibekukan dan berjanji akan menanggung seluruh kerugian yang terjadi. Salah satu kepala eksekutif Binance, Yi He, menyampaikan apresiasi kepada berbagai penerbit mata uang kripto yang membantu membekukan aset mereka, sementara fitur penarikan dana dinonaktifkan sementara hingga lingkungan dipastikan aman.

Sejumlah perusahaan kripto turut merespons insiden tersebut, di antaranya Tether dan Circle yang membekukan total aset sekitar US$2,4 miliar. World Liberty Financial serta platform Binance.US menyatakan bahwa layanan khusus penduduk Amerika Serikat tersebut tidak terdampak oleh masalah ini. Menyusul kabar peretasan tersebut, nilai tukar Bitcoin mengalami penurunan lebih dari empat persen, diikuti oleh kejatuhan tajam harga mata uang kripto utama lainnya seperti Ethereum dan Solana.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *