Daftar Isi
Sebuah peretasan pada Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat oleh kelompok aktivis telah mengungkap informasi pribadi lebih dari 41.000 pegawai. Data yang bocor mencakup pekerja Bea dan Cukai (CBP), petugas Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), serta personel yang bekerja di bidang keamanan siber pemerintah.
Penyebaran Data dan Alat Pencarian
Informasi yang dikumpulkan dari peretasan tersebut diterbitkan secara daring dalam sebuah repositori yang dapat dicari bernama Icepick di situs Distributed Denial of Secrets (DDoSecrets). Berdasarkan situs pembocor berita tersebut, kelompok hacktivist yang dinamakan Department of Peace meretas layanan masuk tunggal (single sign-on) Okta yang digunakan oleh DHS, serta mencuri nama, informasi kontak, dan penugasan pegawai.
Kelompok tersebut kemudian mendistribusikan salinan basis data tersebut melalui grup penampung kebocoran DDoSecrets serta kepada seorang peneliti keamanan siber dan jurnalis investigasi asal Swiss, maia arson crimew, yang membuat alat daring untuk mencari data itu. Seperti dilaporkan CNET, crimew menggambarkan kebocoran tersebut sebagai paparan struktur internal DHS yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat masif.
Dengan merinci peran persis, rantai komando, dan identitas agen di berbagai lembaga seperti ICE, kumpulan data tersebut dinilai mengubah situasi secara total. Hal ini membuat departemen tersebut sangat rentan terhadap investigasi luar selama bertahun-tahun ke depan.
Reaksi dan Respons Departemen
Peretasan ini tampaknya menjadi bentuk pembalasan terbaru terhadap pengawasan yang dipimpin oleh pemerintah, termasuk taktik penegakan hukum ICE yang semakin berbasis teknologi serta kemitraan swasta dengan perusahaan seperti Flock Security. Department of Peace secara langsung mengutip pernyataan Menteri DHS Markwayne Mullin pada bulan Juli mengenai peningkatan tindakan di jalanan—yang merujuk pada pengetatan penindakan imigrasi dan penangkapan—serta merespons bahwa hal tersebut adalah akibat yang diterima ICE.
Para peretas juga menyematkan catatan pada berkas-berkas tersebut yang menyatakan bahwa pihak berwenang memiliki informasi mereka, sehingga sudah adil jika pihak peretas memiliki informasi pihak berwenang. Seorang juru bicara DHS menyatakan kepada CNET bahwa instansi tersebut mengetahui potensi peretasan dan sedang berupaya menangani situasi tersebut secara cepat dan efektif.
Pernyataan itu menambahkan bahwa pihak kementerian menganggap serius segala ancaman keamanan terhadap pegawai dan petugas serta akan bekerja untuk memastikan semuanya terlindungi dengan baik. Sejak kebocoran terjadi, DHS berupaya menurunkan situs-situs yang menampung informasi tersebut, termasuk domain arsip Icepick.
Aplikasi Pengawasan dan Protes Internal
Karena para peretas mendapatkan akses melalui Okta, mereka juga melihat daftar utama aplikasi yang terhubung ke dasbor tersebut. Hal itu mengungkapkan inventaris aplikasi pengawasan yang digunakan oleh ICE, termasuk perangkat lunak penyadapan khusus seperti Penlink, serta aplikasi kecerdasan buatan populer seperti ChatGPT dan Gemini.
Di sisi lain, salah satu pendiri DDoSecrets dan jurnalis Emma Best menuliskan bahwa rilis tersebut bersifat strategis dan bukan sekadar tumpukan data sembarangan. Reaksi publik terhadap peretasan ini menunjukkan krisis legitimasi institusional, di mana banyak pihak memandang paparan tersebut bukan sebagai kejahatan melainkan transparansi paksa terhadap departemen federal yang bertindak tanpa sanksi.
Terdapat pula krisis operasional yang meningkat bagi perusahaan teknologi yang menandatangani kontrak dengan lembaga DHS. Hal ini terjadi pada perusahaan robot Boston Dynamics setelah muncul laporan bahwa ICE berencana menghabiskan dana hingga USD2 juta untuk robot Spot buatan perusahaan tersebut, yang memicu petisi ratusan karyawan menolak kerja sama tersebut.
Peretasan besar DHS ini bukanlah serangan siber acak yang berdiri sendiri. Sebelumnya pada tahun ini, Electronic Frontier Foundation merinci penyebaran peretas giat yang memulai proyek untuk melakukan pengawasan tandingan terhadap ICE, termasuk aplikasi dan perangkat web yang diarahkan untuk melacak pergerakan petugas serta melawan kamera pengawas Flock yang dapat membaca pelat nomor.
Sumber: News – CNET








