Berita Utama

Perbudakan di Sumba Timur, Kekerasan Berbalut Budaya

Perbudakan di Sumba Timur, Kekerasan Berbalut Budaya
Daftar Isi
  1. Ancaman dan Kekerasan Sehari-hari
  2. Penyiksaan dan Penyekapan
  3. Akar Budaya dan Stratifikasi Sosial

Budaya perbudakan masih tersimpan di Sumba Timur, di mana orang-orang dari kasta sosial terendah yang disebut ata atau hamba harus mengabdikan hidupnya beserta keturunan mereka untuk melayani kaum bangsawan atau maramba. BBC News Indonesia menemui dua perempuan korban perbudakan yang mengalami kekerasan fisik hingga seksual selama belasan tahun di bawah bayang-bayang tradisi tersebut.

Ancaman dan Kekerasan Sehari-hari

Maria, kini berusia 22 tahun, menceritakan masa kecilnya yang direnggut sejak berusia delapan tahun setelah dibawa dari rumah keluarganya dengan dalih jalan-jalan usai sebuah upacara penguburan. Ia dipekerjakan sebagai pembersih rumah, pengurus ladang, hingga akhirnya putus sekolah di kelas dua Sekolah Dasar.

Selama belasan tahun mengabdi tanpa upah, Maria kerap menerima cacian, tendangan, hingga ancaman pembunuhan dari majikannya. Saat beranjak remaja, ia dipaksa berhubungan badan dengan budak laki-laki lain hingga melahirkan dua anak laki-laki yang kemudian diambil paksa oleh kerabat majikannya untuk dijadikan hamba.

Puncak ketakutannya terjadi menjelang akhir tahun 2025 ketika majikannya mengamuk dan mengancam akan membunuhnya. Maria akhirnya melarikan diri pada pagi buta berbekal seutas tali dan pakaian di badan untuk mencari perlindungan.

Penyiksaan dan Penyekapan

Kisah serupa dialami Marta, 19 tahun, yang dibawa ke rumah seorang bangsawan atau rambu saat duduk di kelas lima Sekolah Dasar. Ia dipekerjakan di toko grosir milik keluarga bangsawan tersebut dari pagi hingga tengah malam tanpa kelanjutan pendidikan.

Pada Desember 2025, Marta dituduh mencuri uang dan tabung gas elpiji. Meski sempat menyangkal, ia akhirnya mengaku karena mendapat tekanan dan ancaman untuk memenjarakan keluarganya.

Marta lantas disiksa menggunakan kabel listrik dan rambut panjangnya digunting sebagai bentuk penghilangan harga diri sebelum akhirnya disekap. Aksi penyelamatan dramatis kemudian dilakukan oleh aktivis pemuda Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) bersama kepolisian setempat untuk membebaskan Marta dan ibunya dari rumah bangsawan tersebut.

Akar Budaya dan Stratifikasi Sosial

Antropolog Sumba, Norlina Rambu Jola Kalunga, menjelaskan bahwa masyarakat Sumba Timur menganut kepercayaan Marapu yang membentuk struktur sosial ke dalam tiga kasta, yakni golongan bangsawan (maramba), orang merdeka (kabihu), dan hamba (ata). Hubungan timbal balik antara maramba dan ata yang mulanya dianggap simetris bergeser menjadi asimetris dan menyerupai perbudakan akibat eksploitasi serta kekerasan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak (P2KB) Kabupaten Sumba Timur, Oktavianus Tamu Ama, mengakui bahwa penghapusan praktik penghambaan sangat sulit dilakukan karena telah menyatu dengan budaya dan melibatkan kalangan pejabat daerah yang merupakan keturunan bangsawan.

Sementara itu, Komisioner Komnas Perempuan, Sondang Frishka Simanjuntak, menyatakan bahwa pemerintah daerah harus memiliki kemauan untuk mengakui keberadaan praktik perbudakan tersebut sebelum mengambil langkah intervensi kebijakan guna menghapus pelanggaran hak asasi manusia.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *