Daftar Isi
Kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela Amerika Serikat yang membuat Donald Trump kehilangan kendali atas House of Representatives dan Senat berpotensi memicu ketidakpastian bagi ekonomi global. Seperti dilaporkan The Guardian, para analis menilai kepemimpinan Trump yang kini menjadi lame duck atau presiden tanpa dukungan mayoritas parlemen akan memengaruhi pasar keuangan, inflasi, biaya pinjaman pemerintah, hingga pertumbuhan ekonomi di sisa dua tahun masa jabatannya.
Pasar Saham dan Ketegangan Geopolitik
Pasar saham di Asia sempat melemah di awal perdagangan sebelum akhirnya menguat setelah investor mencerna hasil pemilu sela. Meski sikap Trump yang mengakui dampak perang Iran dinilai positif oleh pasar, peringatan dari sang presiden bahwa ia akan menggunakan hak veto secara masif meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya gejolak politik di Gedung Putih.
Ketua Ekonom Berenberg, Holger Schmieding, menyatakan bahwa hasil pemilu menunjukkan pemilih AS menolak tren otoriter dan kapitalisme kroni. Menurut Schmieding kepada The Guardian, hasil tersebut membuktikan bahwa mekanisme pengawasan dan keseimbangan lembaga politik di AS masih berfungsi dengan baik.
Prospek pasar saham dan pertumbuhan ekonomi juga sangat bergantung pada perkembangan perang di Timur Tengah serta kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Investor memperkirakan Partai Demokrat akan memperketat regulasi AI dan pembangunan pusat data, yang selama ini menjadi pendorong utama penguatan pasar saham. Selain itu, terdapat kekhawatiran Trump akan mengambil kebijakan luar negeri yang lebih agresif terhadap Iran setelah kehilangan kendali atas kebijakan domestik.
Lonjakan Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga
Tingginya biaya hidup akibat kenaikan inflasi dan kebijakan tarif yang merugikan pelaku usaha kecil menjadi faktor kunci kekalahan Partai Republik. Harga bahan bakar diesel di AS sempat menyentuh rekor tertinggi pada Agustus lalu, sementara tingkat inflasi utama melonjak hingga 3,7 persen. Invasi AS-Israel ke Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama gejolak harga energi dunia.
Harga minyak mentah jenis Brent sempat turun hingga 9 persen menjadi sekitar 94 dolar AS per barel setelah hasil pemilu keluar. Meskipun demikian, angka tersebut masih berada jauh di atas harga sebelum perang yang berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan inflasi global akan naik menjadi 4,7 persen tahun ini, dengan dampak terberat dirasakan oleh negara-negara pengimpor energi.
Kondisi inflasi ini telah memaksa Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023. Para investor memprediksi The Fed masih akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi. Kebijakan serupa juga diperkirakan akan diambil oleh Bank of England dan Bank Sentral Eropa (ECB).
Keuangan Pemerintah dan Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Kekalahan para kandidat pendukung Trump membuka peluang kerja sama yang lebih besar antara Partai Republik dan Demokrat di Kongres. Namun, kebuntuan politik di Washington akan segera diuji pada 11 Desember mendatang, saat para politisi harus menyetujui anggaran pengeluaran pemerintah untuk menghindari shutdown. Kondisi ini berpotensi menghambat rencana Trump untuk memotong pajak atau menambah pengeluaran negara, yang di satu sisi membatasi stimulus ekonomi tetapi di sisi lain menahan pembengkakan utang.
Terkait pertumbuhan ekonomi, bulan lalu IMF memproyeksikan ekonomi AS akan tumbuh stabil di angka 2,3 persen untuk tahun ini dan tahun depan. Proyeksi tersebut dibuat di tengah peningkatan risiko terhadap aktivitas ekonomi akibat perang Iran dan arah investasi sektor AI yang belum pasti.
Kendati demikian, analisis dari Berenberg memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS berpotensi melambat hingga sekitar 1,5 persen pada 2028. Penurunan ini dipicu oleh kebuntuan politik di Kongres, perlambatan di sektor AI, serta dampak dari kebijakan pembatasan imigrasi yang diterapkan oleh Trump, yang pada akhirnya akan mengurangi kontribusi AS terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Sumber: World news | The Guardian








