Internasional

Ryanair Kaji Pembekuan Gaji dan Kenaikan Tiket Pesawat

Ryanair Kaji Pembekuan Gaji dan Kenaikan Tiket Pesawat

Maskapai penerbangan Ryanair mempertimbangkan pembekuan gaji sementara bagi para pegawainya serta mengonfirmasi bahwa harga tiket pesawat akan jauh lebih tinggi pada musim panas mendatang. Kebijakan ini diambil menyusul lonjakan tajam biaya bahan bakar akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Dampak Lonjakan Biaya Bahan Bakar

Menurut laporan BBC News, maskapai tersebut memperkirakan harga bahan bakar akan tetap tinggi hingga tahun 2027 kecuali terjadi penyelesaian konflik yang cepat. Biaya bahan bakar Ryanair diproyeksikan melonjak sebesar 2 miliar euro atau setara Rp33,5 triliun dalam jangka pendek. Pimpinan tertinggi Ryanair, Michael O’Leary, menyatakan bahwa tarif penerbangan harus dinaikkan hingga dua digit guna membantu menutupi beban biaya tersebut.

Sebelumnya, laba sebelum pajak Ryanair tercatat turun 16 persen menjadi 2,4 miliar euro selama periode enam bulan hingga akhir September. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lonjakan biaya bahan bakar yang mencapai 15 persen. Meskipun 80 persen kebutuhan bahan bakar maskapai telah dilindungi melalui mekanisme harga tetap atau hedging, biaya untuk sisa porsi yang belum terlindung tetap mengalami kenaikan tinggi.

Michael O’Leary kembali mengulang proyeksi yang sempat disampaikan awal tahun ini bahwa perusahaannya membutuhkan kenaikan tarif sebesar 20 persen untuk menutup biaya bahan bakar jet. Ia menyebutkan bahwa seluruh maskapai penerbangan di Eropa dipastikan akan menaikkan tarif tiket hingga dua digit pada tahun 2027.

Kenaikan harga bahan bakar aviasi sendiri terjadi akibat konflik yang drastis memangkas pasokan produk olahan dari Teluk dan memicu persaingan ketat untuk mendapatkan pasokan dari wilayah lain.

Kebijakan Kepegawaian dan Efisiensi

Di samping menaikkan harga tiket, Ryanair mempertimbangkan opsi pembekuan gaji seiring berakhirnya perjanjian kerja multi-tahunan dengan serikat pekerja, yang dapat mulai diberlakukan pada bulan April tahun depan. Perusahaan juga berencana memperlambat proses perekrutan karyawan baru di tengah meningkatnya biaya operasional.

Menanggapi rencana tersebut, Oliver Richardson selaku pejabat nasional di serikat pekerja Unite menyatakan bahwa pihaknya belum menerima pemberitahuan apa pun terkait usulan tersebut. Ia menegaskan bahwa para pekerja memiliki perjanjian upah multi-tahunan yang berlaku hingga tahun depan, ketentuan serupa yang juga dimiliki oleh sejumlah serikat pekerja lain di Eropa.

Perjanjian gaji tersebut tidak dikaitkan ataupun bergantung pada kinerja perusahaan, sesuatu yang menurut Richardson dulunya sangat ditekankan oleh pihak Ryanair. Oleh karena itu, pihak serikat pekerja berharap kesepakatan itu akan tetap dihormati.

Sebagai langkah efisiensi lanjutan, Ryanair berencana meningkatkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence pada sektor kantor belakang dan fungsi dukungan. Maskapai ini juga telah memangkas penerbangan musim dingin dan mengonfirmasi bahwa pengurangan serupa akan terus berlanjut hingga musim panas 2027, di mana kapasitas penerbangan jarak pendek diperkirakan akan tetap terbatas hingga awal dekade 2030-an.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *