Internasional

Wabah Antraks Bunuh Puluhan Kuda Nil di Taman Nasional Virunga

Wabah Antraks Bunuh Puluhan Kuda Nil di Taman Nasional Virunga
Daftar Isi
  1. Kematian Kuda Nil di Sungai Semuliki
  2. Ancaman bagi Ekosistem dan Langkah Penanganan
  3. Dampak Konflik dan Faktor Pemicu Wabah
  4. Penerapan Prinsip Kesehatan Bersama

Wabah penyakit antraks melanda Taman Nasional Virunga di bagian timur Republik Demokratik Kongo (RDK) dan menyebabkan kematian puluhan satwa liar. Kasus ini menambah kekhawatiran warga di tengah upaya negara tersebut menghadapi wabah Ebola.

Kematian Kuda Nil di Sungai Semuliki

Selama empat pekan terakhir, bangkai kuda nil ditemukan di sepanjang Sungai Semuliki yang berada di sisi barat taman nasional tertua di Afrika tersebut. Penemuan ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai.

Michael Kambale, seorang warga enklave Vitshumbi yang terletak sekitar 100 kilometer di utara Goma, ibu kota Provinsi Kivu Utara, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa gelombang kematian massal satwa tersebut mulai terlihat sejak pertengahan September. Pihak Taman Nasional Virunga kemudian mengonfirmasi melalui uji laboratorium bahwa bakteri Bacillus anthracis menjadi penyebab kematian tersebut.

Berdasarkan keterangan pengelola taman nasional, sebanyak 28 ekor kuda nil mati dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Pihak pengelola juga mengingatkan bahwa penyakit tersebut dapat menular ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit atau mati, maupun akibat mengonsumsi dagingnya.

Ancaman bagi Ekosistem dan Langkah Penanganan

Joel Mbusa Mapoli, seorang pakar ekologi dan kedokteran hewan, menyatakan bahwa kematian tersebut merupakan kehilangan besar bagi Taman Nasional Virunga dan mendesak adanya tindakan darurat. Ia menjelaskan bahwa kuda nil memegang peran penting sebagai pengatur alur nutrisi dan kondisi ekologis di habitat mereka.

Pihak Taman Nasional Virunga menyatakan bahwa mereka saat ini fokus pada pengawasan, penanganan bangkai secara aman, serta pengurangan risiko bagi satwa liar dan warga setempat. Tim gabungan terus memantau area terdampak, mencatat kasus kematian baru, serta mengoordinasikan pemindahan dan pembuangan bangkai hewan dengan aman.

Warga diimbau untuk tidak menyentuh, menguliti, atau mengonsumsi hewan yang ditemukan mati, serta segera melapor kepada pihak berwenang jika menemukan bangkai atau kasus yang mencurigakan. Didirikan pada tahun 1925, Virunga merupakan taman nasional tertua di Afrika yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi.

Dampak Konflik dan Faktor Pemicu Wabah

Aktivis lingkungan asal Kongo sekaligus pimpinan Alerte Congolaise pour l’environnement et les droits de l’homme, Olivier Ndoole Bahemuke, mengungkapkan bahwa konflik bersenjata yang berlangsung selama hampir tiga dekade telah memicu perburuan liar dan deforestasi di wilayah tersebut. Pihak pengelola taman nasional menyebutkan bahwa mereka telah kehilangan kendali atas sebagian besar wilayahnya dalam empat tahun terakhir akibat konflik antara tentara Kongo dan kelompok pejuang M23.

Di sisi lain, kelompok bersenjata M23 menyatakan bahwa mereka turut membantu melindungi wilayah tersebut dari para pemburu liar dan ancaman manusia lainnya. Terkait wabah antraks, pengelola taman menjelaskan bahwa kejadian serupa pernah diamati pada populasi kuda nil dan satwa liar lainnya selama periode kekeringan.

Menurut Mapoli, beberapa faktor yang menyebabkan wabah antraks kerap berulang di Virunga meliputi ketahanan spora bakteri di lingkungan, penurunan kondisi ekologis dan iklim, konsentrasi hewan di sekitar sumber air, serta kendala dalam pemantauan kesehatan satwa liar. Saat vegetasi menipis, hewan herbivora merumput lebih dekat ke tanah dan berkumpul di sedikit titik air yang tersisa, sehingga meningkatkan risiko paparan tanah yang terkontaminasi.

Sensus Taman Nasional Virunga pada Februari 2026 mencatat populasi kuda nil mencapai lebih dari 2.700 ekor yang tersebar di 171 kelompok. Pada tahun 2025, wabah antraks juga menewaskan 65 ekor kuda nil di kawasan konservasi tersebut, yang kala itu direspons petugas dengan mengerahkan alat berat untuk mengevakuasi bangkai dari perairan, mengingat spora antraks mampu bertahan di dalam tanah hingga puluhan tahun.

Penerapan Prinsip Kesehatan Bersama

Mapoli menegaskan bahwa penanganan antraks harus memadukan langkah konservasi dengan intervensi kesehatan masyarakat melalui prinsip One Health, yang menyatukan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Ia meminta peningkatan pengawasan epidemiologi, perlindungan yang lebih baik bagi komunitas lokal, pengelolaan bangkai hewan secara tepat, serta kolaborasi lintas sektor.

Kuda nil merupakan salah satu spesies utama di ekosistem Virunga yang kepentingannya sangat vital dalam menjaga keseimbangan pertukaran materi antara lingkungan darat dan perairan. Hilangnya satwa tersebut dikhawatirkan dapat memicu gangguan besar pada ekosistem akuatik.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *