Teknologi

Pekerja di India Latih AI, Muncul Kekhawatiran Digantikan

Pekerja di India Latih AI, Muncul Kekhawatiran Digantikan
Daftar Isi
  1. Pengumpulan Data untuk AI Fisik
  2. Kebutuhan Data Dunia Nyata
  3. Dilema Ancaman Pekerjaan
  4. Masa Depan Posisi India dalam Industri AI

Mohammed Ashim, seorang tukang pangkas rambut berusia 22 tahun di Bengaluru, India, merekam seluruh aktivitas pekerjaannya menggunakan kamera di kepala selama lima hingga enam jam sehari. Ia adalah satu dari ratusan ribu pekerja di seluruh dunia yang dibayar untuk merekam kegiatan kerja mereka guna melatih kecerdasan buatan atau *Artificial Intelligence* (AI).

Pengumpulan Data untuk AI Fisik

Rekaman aktivitas para pekerja tersebut dikumpulkan oleh perusahaan lokal seperti Rashdan Technologies dan Humyn Labs, yang kemudian menjualnya kepada perusahaan teknologi serta organisasi penelitian. Data video ini digunakan untuk melatih AI fisik, yaitu jenis kecerdasan buatan yang dapat mengendalikan robot di dunia nyata.

Menurut salah satu pendiri dan CEO Rashdan Technologies, Shahil Baig, setiap perusahaan robotika yang memiliki laboratorium AI memerlukan jenis data spesifik dari berbagai bidang, mulai dari pekerjaan industri, pertanian, pekerjaan rumah tangga, hingga usaha kecil seperti pembuatan tembikar, pakaian, sulaman, dan lilin. Perusahaannya membayar US$5 hingga US$10 atau sekitar Rp90.000 sampai Rp180.000 untuk delapan hingga 10 jam kerja yang direkam.

Baig memastikan pihaknya menjaga kenyamanan dan privasi para pekerja. Kamera hanya merekam bagian tangan dan jari, sementara wajah dikaburkan serta tidak ada detail ident pribadi yang disertakan dalam data tersebut. Namun, ia menambahkan, para klien kini semakin banyak menuntut pemasangan empat hingga enam kamera di sekitar kepala untuk meliput seluruh adegan, dan perusahaan membayar lebih untuk tingkat pengumpulan data yang lebih kompleks itu.

Kebutuhan Data Dunia Nyata

Pendiri Humyn Labs, Manish Agarwal, menjelaskan bahwa robot yang ingin menavigasi dunia nyata tidak bisa hanya dilatih di dalam simulasi komputer. Sebagian besar data bersumber dari video, sementara sebagian lainnya melibatkan pengumpul data yang mengenakan perangkat keras di tangan dan jari untuk merekam kontak fisik.

“Tugas fisik membutuhkan sinyal berkualitas tinggi yang melibatkan gerakan anggota tubuh, jari, pergelangan tangan, siku, bahu, dan penerapan gaya dinamis. Misalnya: menerapkan gaya genggaman yang tepat agar botol plastik tidak hancur dibandingkan dengan gelas baja,” kata Agarwal. Menurutnya, internet belum menyediakan aktivitas manusia yang langsung berhubungan dengan kontak fisik semacam itu, sehingga data harus dikumpulkan dari awal di dunia nyata dari berbagai lingkungan dan wilayah geografis.

Humyn Labs saat ini memiliki 96.000 pengumpul data di berbagai negara di Amerika Latin dan Asia Tenggara. Perusahaan menyaring ribuan jam video tersebut, memilih konten yang paling bermanfaat, memberi label agar AI mengenali isinya, serta mengemasnya dalam format yang siap digunakan klien.

Dilema Ancaman Pekerjaan

Di sisi lain, muncul pertanyaan apakah para pekerja ini sedang mengumpulkan data untuk mesin yang kelak akan menggantikan pekerjaan mereka. Profesor senior di Tata Institute of Social Sciences (TISS) di Mumbai, Bino Paul, menilai masih terlalu dini untuk menilai dampaknya, meski bagi sebagian orang AI mungkin menjadi alat yang berguna sementara robot mengotomatiskan pekerjaan lain.

“Pada saat para pekerja menyadari apa yang telah mereka lakukan, keadaan mungkin sudah kebablasan,” ujar Bino Paul, yang berharap pemerintah dapat mengatur tata kelola AI agar etika dijunjung tinggi dan sistem sosio-teknis dapat memastikan AI memberikan manfaat alih-alih kerugian.

Bagi sebagian pekerja, keterlibatan dalam proyek ini didasari oleh kebutuhan bertahan hidup. Mohammed Arman, seorang pekerja industri tekstil di Bangalore yang telah berpengalaman selama 10 tahun, mengaku tidak keberatan mengenakan kamera di kepala saat menjahit dan memotong pakaian.

“Bagi saya, ini sederhana. Ini soal bertahan hidup. Saya punya keluarga di kampung halaman di Bihar, dan setiap rupee yang saya kirimkan sangat berarti. Jika seseorang menawarkan uang tambahan untuk memakai kamera sambil melakukan pekerjaan yang sama persis seperti yang telah saya lakukan selama 10 tahun, saya tidak akan menolak,” kata Arman.

Masa Depan Posisi India dalam Industri AI

Manish Agarwal berpandangan bahwa nilai bisnis pengumpulan data mentah ini akan cepat terkikis seiring meningkatnya persaingan antarperusahaan. India, menurutnya, tidak bisa terus-menerus berperan sebagai pemasok bahan baku berupa video mentah.

“India perlu meningkatkan posisinya dalam rantai nilai: dari merekam video mentah hingga memiliki alur kerja yang mengubah video tersebut menjadi sesuatu yang dapat digunakan – membersihkannya, menyusunnya, memvalidasinya, dan pada akhirnya menetapkan standar untuk apa yang dianggap sebagai data pelatihan berkualitas tinggi,” jelas Agarwal.

Sementara itu, bagi sebagian pihak, aktivitas ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang fleksibel. Jolly Arifur, seorang guru sains di Guntakal, Anantapur, memanfaatkan kesempatan tersebut dengan memasang kamera pada rig di kepala saat melakukan pekerjaan rumah tangga rutin seperti memasak, menyapu, membersihkan, dan melipat pakaian di sela-sela jadwal mengajarnya.

“Saya dibayar dua hingga tiga dolar per jam. Jika saya merekam tiga hingga lima jam sehari, itu jumlah yang cukup bagus, dan telah menjadi sumber pendapatan tambahan di samping mengajar. Sejujurnya, saya mengelola keduanya dengan sangat baik,” ungkap Arifur.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *