Subaru berencana memperluas pangsa pasarnya di Amerika Serikat menjadi 5 persen dari sebelumnya 3,9 persen pada akhir 2025. Berdasarkan Laporan Terintegrasi 2026 yang dilansir Autoblog News, produsen otomotif asal Jepang ini berupaya menarik lebih banyak konsumen di luar basis penggemar setianya saat ini.
Strategi Peningkatan Lini Produk dan Produksi Fleksibel
Dalam rencana jangka panjangnya, Subaru menargetkan penjualan global melebihi 1,2 juta unit mobil per tahun pada awal dekade 2030-an. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan pencapaian 896.000 unit pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Untuk mencapai target ini, perusahaan bakal meluncurkan lebih banyak model baru demi mengisi kekosongan lini produk yang ada.
Subaru menempatkan fleksibilitas produksi sebagai kunci utama strategi pertumbuhan. Pabrik Yajima milik Subaru di Jepang telah mulai memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai (EV) pada awal 2026. Fasilitas tersebut memproduksi EV Toyota berdampingan dengan lini produksi SUV Forester bermesin bensin.
Mulai musim gugur 2026, pabrik Yajima juga akan memproduksi Subaru Forester untuk pasar Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan untuk menopang kapasitas produksi pabrik Subaru yang berada di Indiana, sekaligus menjaga pasokan saat permintaan pasar meningkat.
Efisiensi Biaya dan Penyesuaian Harga
Di samping peningkatan produksi, Subaru menjalankan program Cost Innovation 20-30. Program efisiensi ini ditargetkan mampu memangkas pengeluaran sekitar 200 miliar yen atau setara 1,26 miliar dolar AS per tahun hingga 2030. Penghematan anggaran tersebut disiapkan untuk meredam dampak kenaikan biaya operasional serta potensi tarif impor di Amerika Serikat.
Subaru juga mulai menyesuaikan strategi penetapan harga kendaraan agar lebih kompetitif. Perusahaan berencana menghadirkan kembali varian model dasar pada tahun model 2027 untuk menekan harga masuk bagi pembeli baru di pasar Amerika Serikat.
Sumber: Autoblog News








