Internasional

Desak Reformasi KTT Keanekaragaman Hayati PBB Usai Gagal Capai Target

Desak Reformasi KTT Keanekaragaman Hayati PBB Usai Gagal Capai Target
Daftar Isi
  1. Evaluasi Target Pelindungan Alam Global
  2. Kritik Terhadap Proses Konsensus Konferensi
  3. Penundaan Dana dan Upaya Perbaikan Agenda Lingkungan

Konferensi keanekaragaman hayati PBB atau Cop17 yang berfokus pada pelindungan alam dan pemulihan ekosistem berakhir pada Sabtu pagi di Yerevan, Armenia, di tengah meningkatnya desakan untuk mereformasi sistem KTT tersebut. Para kritikus menilai proses berbasis konsensus yang berlaku saat ini memungkingkan kemajuan terhambat karena kegagalan pemerintah memenuhi janji-janji mereka.

Evaluasi Target Pelindungan Alam Global

Selama dua pekan perundingan, berbagai negara berikrar untuk melipatgandakan upaya mencapai target dekade ini, yang mencakup komitmen melindungi 30 persen planet untuk alam, memulihkan hampir sepertiga ekosistem bumi yang terdegradasi, dan mereformasi subsidi perusak lingkungan senilai 500 miliar dolar Amerika Serikat. Target yang disepakati oleh hampir seluruh pemerintahan dunia empat tahun lalu itu bertujuan mengubah hubungan umat manusia dengan alam. Kendati ada kemajuan di beberapa sektor, pemerintah dari berbagai negara tertinggal jauh dalam memenuhi hampir seluruh target tersebut, di mana Britania Raya misalnya hanya akan memenuhi tiga dari 23 target yang ada.

Setelah perundingan maraton dari Jumat malam hingga Sabtu pagi, negara-negara mengesahkan sejumlah langkah, termasuk komitmen mempercepat aksi pemenuhan target yang ada serta menegaskan kembali target pendanaan keanekaragaman hayati sebesar 30 miliar dolar Amerika Serikat per tahun pada akhir dekade ini. Sepanjang konferensi berlangsung, para menteri lingkungan hidup, aktivis, dan pejabat menyerukan perubahan signifikan pada cara kerja KTT agar pemerintah menindaklanjuti komitmen tersebut dengan aksi nyata terhadap penyebab hilangnya keanekaragaman hayati.

Kritik Terhadap Proses Konsensus Konferensi

Menteri Lingkungan Hidup Panama, Juan Carlos Navarro, menyatakan bahwa proses Cop telah dirancang untuk gagal. Ia berpendapat keputusan seharusnya diambil melalui suara mayoritas karena proses berbasis konsensus memungkinkan satu pihak saja untuk mencegah tercapainya kesepakatan.

“Banyak hal yang terjadi di Cop ini hanyalah omong kosong belaka dan pidato-pidato indah,” ujarnya kepada AFP, seraya menambahkan bahwa tidak masuk akal mengharapkan konsensus di antara setiap negara di bumi untuk setiap topik. Ia juga mengusulkan agar PBB menyelenggarakan satu KTT lingkungan hidup tunggal setiap tahun untuk mengatasi isu iklim, keanekaragaman hayati, dan plastik sekaligus.

Selama perundingan di ibu kota Armenia, Argentina, Arab Saudi, dan Rusia dilaporkan memperlemah bahasa ambisi lingkungan dalam kesepakatan akhir, sementara negara-negara kaya terbelah mengenai pihak yang harus berkontribusi lebih besar dalam sumber daya finansial. Negara-negara Eropa menginginkan adanya penambahan daftar negara donor, mengingat China dan beberapa negara Teluk masih diklasifikasikan sebagai negara berkembang dalam proses PBB meskipun telah mengalami pembangunan ekonomi pesat selama beberapa dekade. Kesepakatan akhir di Yerevan pun membiarkan isu tersebut tetap terbuka.

Penundaan Dana dan Upaya Perbaikan Agenda Lingkungan

Keputusan penting mengenai dana untuk memobilisasi sumber daya dari perusahaan yang meraup keuntungan dari keanekaragaman hayati digital, seperti perusahaan farmasi, terpaksa ditunda hingga KTT berikutnya di Ekuador dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Dana tersebut sebelumnya diharapkan mampu menghasilkan satu miliar dolar per tahun untuk konservasi alam dengan sebagian besar dialokasikan bagi komunitas masyarakat adat, namun sejauh ini baru mengumpulkan sedikit di atas 10.000 dolar Amerika Serikat.

Utusan alam Britania Raya, Ruth Davis, mengakui bahwa pertemuan tersebut dapat memicu rasa frustrasi yang luar biasa, namun ia menilai banyak implementasi besar yang telah berjalan di seluruh dunia. Ia menekankan pentingnya membuat sistem tersebut menghasilkan keluaran nyata bagi masyarakat agar kepercayaan publik tidak hilang.

Upaya mereformasi agenda lingkungan PBB yang sangat luas ini sebenarnya sudah berjalan. Direktur eksekutif program lingkungan PBB, Inger Andersen, menyatakan bahwa sistem saat ini memang mendorong perubahan, tetapi bergerak terlalu lambat karena agenda lingkungan terlalu padat dengan banyaknya pertemuan yang tumpang tindih secara program.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *