Internasional

Gubernur Sebut Pemberontak Houthi Kembalikan Taiz ke Zaman Batu

Gubernur Sebut Pemberontak Houthi Kembalikan Taiz ke Zaman Batu
Daftar Isi
  1. Krisis Air, Pangan, dan Kesehatan
  2. Bantahan Houthi dan Perubahan Identitas
  3. Pengawasan Telekomunikasi dan Respons Internasional

Gubernur Taiz, Nabil Shamsan, menyatakan kelompok Houthi berupaya membawa kota terbesar ketiga di Yaman tersebut kembali ke zaman batu melalui pengepungan yang telah berlangsung selama sebulan. Ia mendesak masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak guna mengakhiri blokade yang memicu pembantaian serta kelangkaan kebutuhan pokok.

Krisis Air, Pangan, dan Kesehatan

Nabil Shamsan menjelaskan bahwa pasokan oksigen, air, dan makanan di kota tersebut semakin menipis, sementara sampah menumpuk di jalan-jalan karena tempat pembuangan akhir penuh atau tidak dapat diakses. Kebutuhan air minimum harian di Taiz diperkirakan mencapai sekitar 35.000 meter kubik, namun hanya 1.000 meter kubik yang diizinkan masuk setiap hari akibat penghentian pengiriman di pos pemeriksaan Houthi.

Persediaan makanan yang habis dan melonjaknya harga gandum membuat warga harus berjuang sekadar untuk bertahan hidup. Restoran-restoran terpaksa tutup karena ketiadaan bahan bakar, sementara 1.800 pasien cuci darah kehilangan akses terhadap perlengkapan medis. Selain itu, 120 pusat kesehatan ditangguhkan operasinya dan sekolah-sekolah ditutup, yang berdampak pada ratusan ribu anak.

Sejak Agustus hingga 20 Oktober 2026, sebanyak 64 orang tewas termasuk warga sipil, sementara 173 lainnya mengalami luka-luka. Lebih dari 6.400 keluarga pengungsi baru, dengan rata-rata tujuh anggota per keluarga, juga mendatangi kota tersebut untuk menyelamatkan diri dari pertempuran. Shamsan menegaskan bahwa situasi di sana bukan lagi soal kehidupan, melainkan sekadar bertahan hidup.

Bantahan Houthi dan Perubahan Identitas

Pernyataan tersebut bertentangan dengan keterangan pemimpin Houthi, Abdul-Malik Badr al-Din al-Houthi, yang mengklaim jalur menuju kota terbuka bagi makanan, obat-obatan, bantuan kemanusiaan, maupun kelompok yang didukung Arab Saudi. Menurutnya, siapa pun yang ingin membuktikan bahwa tidak ada pengepungan di Taiz dapat mendatangi kota tersebut.

Shamsan mengungkapkan bahwa pasukan Houthi menguasai hampir seluruh akses jalan menuju kota dan memberikan pilihan kepada lebih dari 800.000 jiwa di dalamnya untuk meninggalkan kota atau mati. Ia menuding Houthi tidak sedang menjalankan pertempuran militer, melainkan perang untuk mengubah identitas Yaman melalui penempatan pemimpin agama baru di desa-desa tangkapan serta perubahan kurikulum pendidikan.

Warga di wilayah pendudukan dipaksa menunjukkan kesetiaan kepada agama Zaydi dan menandatangani formulir keanggotaan Houthi. Shamsan menambahkan puluhan anak dari setiap desa juga diperintahkan secara paksa tanpa izin orang tua untuk dikirim ke garis depan pertempuran di Saada dan wilayah lainnya.

Pengawasan Telekomunikasi dan Respons Internasional

Dalam pemaparannya yang disampaikan dari jarak dua hingga lima kilometer dari garis depan, Shamsan menyebut pemboman terhadap kota semakin sering terjadi dan komunikasi antara wilayah perkotaan serta pedesaan terputus. Houthi kini mengendalikan jaringan seluler untuk mengirim pesan agar warga mengakhiri perlawanan sekaligus menyadap seluruh percakapan, sementara jaringan seluler mengalami gangguan total.

Sejumlah lembaga independen sepakat bahwa kondisi kehidupan di dalam kota memburuk dengan cepat. Peneliti Yaman di Human Rights Watch, Niku Jafarnia, menyatakan bahwa upaya baru Houthi untuk memutus pasokan makanan, air, dan obat-obatan di Taiz menunjukkan pengabaian total terhadap nyawa warga sipil. Selama pengepungan yang berlangsung selama 12 tahun di Taiz, Houthi dinilai telah mengebom, membuat kelaparan, dan menolak bantuan kemanusiaan bagi satu juta penduduk kota tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *