Daftar Isi
Generasi pertama pekerja imigran asal Turki di Jerman kini menghadapi tingkat kemiskinan yang tinggi pada usia tua. Rendahnya penerimaan uang pensiun serta dampak kesehatan akibat pekerjaan fisik yang berat pada masa muda menjadi faktor utama yang memicu kondisi tersebut.
Diskriminasi dan Ketimpangan Ekonomi
Dalam sebuah acara peringatan di Bandara Düsseldorf pada pertengahan September lalu—lokasi bersejarah tempat tibanya kelompok pekerja imigran Turki pertama 65 tahun lalu—Perdana Menteri North Rhine-Westphalia, Hendrik Wüst, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi para imigran. Hingga penghentian perekrutan pada 1973, sebanyak 870 ribu warga Turki bermigrasi ke Jerman untuk bekerja di tambang batu bara, pabrik, serta sektor kebersihan, dengan mayoritas menetap di Düsseldorf, Cologne, dan Duisburg. Wüst menegaskan bahwa kesetaraan penuh baru akan terwujud apabila nama, warna kulit, dan agama tidak lagi memicu diskriminasi.
Profesor Studi Turki Modern di Universitas Duisburg-Essen, Haci-Halil Uslucan, menjelaskan kepada DW bahwa diskriminasi terhadap warga keturunan Turki di Jerman masih tergolong tinggi. Meski demikian, ia mencatat adanya keberhasilan di bidang pendidikan dan politik, seperti karier Cem Özdemir yang kini menjabat sebagai Perdana Menteri Negara Bagian Baden-Württemberg.
Angka Kemiskinan dan Pensiun yang Rendah
Uslucan menuturkan bahwa angka kemiskinan usia tua di kalangan imigran mencapai 25 hingga 30 persen, dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan warga Jerman yang berada di kisaran 12 hingga 14 persen. Tingkat disabilitas dan pensiun dini pada kelompok imigran juga jauh lebih tinggi akibat beban kerja fisik yang berat. Selain itu, mereka dua kali lebih berisiko mengalami pengangguran dalam kurun sepuluh tahun sebelum memasuki masa pensiun.
Berdasarkan analisis khusus dari dana asuransi pensiun Jerman (DRV) untuk Mediendienst Integration, pensiunan berkewarganegaraan Turki menerima tunjangan pensiun rata-rata 360 euro lebih rendah dibandingkan pensiunan Jerman. Pada akhir 2025, rata-rata dana pensiun warga Turki sebesar 890 euro per bulan, sementara pensiunan Jerman menerima 1.250 euro. Data per Juni 2026 juga menunjukkan bahwa 9,3 persen pensiunan berstatus warga negara Turki bergantung pada bantuan sosial tambahan, berbanding 2,7 persen pada warga Jerman.
Minimnya Kesempatan Pelatihan Kerja
Sosiolog dari Hans Böckler Foundation, Eric Seils, menguraikan kepada DW bahwa para imigran umumnya bekerja di sektor berupah rendah seperti pabrik, tambang, atau konstruksi tanpa kualifikasi pendidikan tinggi. Gelombang deindustrialisasi dan krisis minyak pada awal 1970-an turut memicu pemutusan hubungan kerja, sehingga memotong masa iuran pensiun mereka.
Sementara itu, peneliti dari Institute for Sociological Research (SOFI) Universitas Göttingen, Janina Söhn, menyoroti kerentanan yang dihadapi oleh migran perempuan yang tinggal sendirian. Menurut data Badan Ketenagakerjaan Federal Jerman, tingkat partisipasi kerja pensiunan asal Turki hanya berada di angka 5,2 persen, jauh di bawah pensiunan Jerman yang mencapai 10,8 persen. Söhn menambahkan bahwa generasi pekerja imigran tersebut tidak mendapatkan akses program pendidikan berkelanjutan dan harus mengorbankan kesehatan mereka demi pekerjaan berat yang dilakukan.
Sumber: Deutsche Welle








