Daftar Isi
Interaksi antara kucing dan manusia sering kali menimbulkan pertanyaan apakah kutu hewan berbulu tersebut dapat menular ke manusia. Berdasarkan penjelasan dari Healthline seperti dilansir CNN Indonesia, kutu memang dapat melompat ke manusia dan menggigit kulit, namun tidak menjadikan tubuh manusia sebagai tempat tinggal untuk waktu yang lama.
Apakah Kutu Kucing Bisa Menular?
Kutu umumnya hidup pada hewan berdarah panas seperti kucing, anjing, burung, dan hewan ternak. Bulu atau bulu halus pada tubuh hewan menyediakan tempat bagi kutu untuk bersembunyi, makan, serta berkembang biak.
Kutu dapat berpindah ketika seseorang berada dekat dengan kucing yang terinfestasi. Selain pada tubuh hewan, kutu juga bisa ditemukan di lingkungan rumah, terutama pada tempat tidur dan alas bermain kucing, karpet serta sofa berbahan kain, selimut atau kain yang sering digunakan hewan, serta area tempat hewan beristirahat.
Meskipun kutu dapat melompat ke manusia, parasit ini tidak akan menetap pada tubuh. Manusia tidak memiliki bulu lebat yang dibutuhkan kutu untuk berlindung dan bertelur.
Ciri-Ciri Gigitan Kutu Kucing
Kendati tidak menetap, bukan berarti risiko digigit kutu hilang sepenuhnya. Kutu dapat melompat ke manusia dan menggigit kulit untuk mengisap darah.
Kutu lebih sering menggigit bagian kaki, pergelangan kaki, serta tungkai. Kutu juga dapat berada di rambut untuk sementara waktu, misalnya ketika seseorang tidur bersama hewan yang berkutu.
Gigitan kutu dapat menimbulkan bintik merah dan rasa gatal pada kulit. Kutu terkadang menggigit beberapa kali secara berdekatan. Reaksi kulit setiap orang bisa berbeda, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap air liur kutu.
Jika area gigitan semakin merah, terasa nyeri, atau tampak mengalami infeksi, seseorang sebaiknya memeriksakan diri ke tenaga medis. Kutu juga dapat membawa penyakit atau parasit tertentu, sehingga gigitan yang disertai keluhan lain perlu mendapat perhatian.
Cara Mencegah Kutu Kucing Menyebar
Untuk mengurangi risiko gigitan dan infestasi di dalam rumah, terdapat beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Pemilik hewan perlu memeriksa bulu kucing secara rutin dan menggunakan sisir kutu bila diperlukan.
Selain itu, pengobatan kutu sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter hewan agar produk yang digunakan aman dan sesuai. Pemilik juga perlu mencuci alas tidur serta kain milik kucing dengan air panas sesuai petunjuk bahan, serta membersihkan karpet, sofa, dan area tempat kucing beristirahat secara menyeluruh.
Lakukan pencegahan kutu secara berkala sesuai anjuran dokter hewan, termasuk saat cuaca dingin. Jika kutu tetap ditemukan atau jumlahnya banyak, pertimbangkan bantuan jasa pengendalian hama dengan penanganan yang mencakup kucing dan lingkungan rumah agar kutu tidak kembali.








