Hiburan

Komika AS Raih Kontrak Agensi Berkat Konten Satir AI

Komika AS Raih Kontrak Agensi Berkat Konten Satir AI

Sejumlah kreator konten dan komika di Amerika Serikat berhasil menarik perhatian agensi bakat besar berkat kreativitas mereka mengejek dan menyindir sistem kecerdasan buatan (AI). Tren komedi absurd ini tidak hanya mendatangkan ratusan ribu pengikut baru di media sosial, tetapi juga membuka pintu karier profesional di dunia hiburan.

Kebangkitan Komedi Berbasis Kecerdasan Buatan

Salah satu komika yang merasakan dampak positif dari tren ini adalah Graham Raabe, seorang manajer penjualan di sektor teknologi finansial. Di luar pekerjaan utamanya, ia menggeluti dunia komedi tunggal dan penulisan skenario, serta mulai bereksperimen dengan video komedi situasi di Instagram dan TikTok sejak Mei tahun ini. Mulanya, ia hanya membuat lelucon seputar lingkungan kantor dengan memelintir frasa klise rapat perusahaan.

Tidak lama kemudian, Raabe mulai menggunakan bot AI untuk menguji jargon korporat sebelum akhirnya menemukan format wawancara kerja virtual yang bizar. Dalam seri videonya berjudul “How to Fail Your AI Interview”, ia sengaja mengacaukan panggilan dengan avatar dari laboratorium riset Tavus, seperti Clark dari Marlow & Finch, menggunakan tanggapan yang tidak masuk akal. Ketika diwawancarai oleh avatar tersebut, Raabe mengaku bernama Chick Bongo dengan pengalaman sepuluh tahun mengelola “margin badger” dan “goosebuckle”, yang ditanggapi secara serius oleh bot tersebut.

Menurut keterangannya kepada WIRED, interaksi tersebut berhasil menggandakan jumlah pengikut Instagram miliknya dari sekitar 50.000 menjadi lebih dari 100.000 orang dalam kurun waktu dua bulan. Gaya komedi berbasis improvisasi ini membawanya menandatangani kontrak dengan agensi bakat Dulcedo Management.

Peluang di Tengah Kontradiksi Teknologi

Alex Melendez selaku direktur asosiasi bidang permainan dan hiburan di Dulcedo mengungkapkan kepada WIRED bahwa pihaknya langsung terpikat oleh ketepatan waktu dan premis orisinal yang dibawakan oleh Raabe. Ia menilai ada unsur kelucuan alami dari kontradiksi seputar teknologi tersebut saat ini. Di satu sisi, publik kerap mendengar klaim bahwa teknologi ini akan mengubah berbagai industri dan menggantikan lapangan kerja, namun di sisi lain sistem tersebut masih kesulitan menghadapi hal-hal yang sangat mendasar.

Pendapat serupa juga dialami oleh kreator konten lain seperti Matt Husk yang terkenal dengan dialog surreal bersama ChatGPT dari OpenAI, serta Sam Wassef yang memparodikan perilaku bot AI di media sosial. Konten interaksi Husk yang mengekspos kelemahan model bahasa besar (LLM) bahkan sempat memicu reaksi langsung dari CEO OpenAI, Sam Altman, dalam sebuah siniar teknologi.

Meskipun konten-konten tersebut kerap menyoroti celah kelemahan sistem, para pengembang teknologi justru dikabarkan merespons positif. Raabe menyebutkan bahwa dirinya sering menerima pesan langsung dari para manajer produk yang merasa terhibur sekaligus terbantu untuk mengidentifikasi celah keterampilan pada produk mereka. Pada akhirnya, pihak agensi melihat bahwa keviralan ini hanyalah langkah awal, sementara bakat di balik layar lah yang akan menentukan kelangsungan karier jangka panjang para kreator tersebut.

Sumber: WIRED

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *