Internasional

China Raup Untung dari Tren Motor Listrik di Asia Selatan

China Raup Untung dari Tren Motor Listrik di Asia Selatan
Daftar Isi
  1. Lonjakan Ekspor dan Opsi yang Murah
  2. Ruang Gerak dan Perubahan Sosial
  3. Tantangan Industri dan Dimensi Geopolitik

Lonjakan biaya bahan bakar minyak akibat perang AS-Israel dengan Iran berdampak signifikan terhadap sektor transportasi di Asia Selatan. Situasi di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu pasokan BBM membuat semakin banyak warga beralih menggunakan motor listrik buatan China yang murah dan lincah.

Lonjakan Ekspor dan Opsi yang Murah

Ekspor motor listrik China ke kawasan tersebut meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir setelah harga BBM global melonjak sejak Februari. Menurut data bea cukai China, pada Agustus lalu ekspor skuter jadi ke India hampir berlipat ganda, sementara pengiriman ke Pakistan dan Bangladesh masing-masing meningkat sebesar 291 persen dan 553 persen.

Bangladesh, yang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya, merasakan guncangan tersebut secara dramatis. Imran Zaman Khan selaku direktur divisi Rancon Motors menyebutkan bahwa warga sempat mengantre selama delapan hingga 10 jam untuk mengisi bahan bakar pada Maret dan April lalu, sehingga kendaraan listrik yang sebelumnya dianggap sebagai hal asing kini menjadi kebutuhan sehari-hari.

Mostafa Al Mahmud selaku presiden Asosiasi Energi Berkelanjutan dan Terbarukan Bangladesh mengatakan bahwa biaya operasional motor listrik hanya sepersepuluh dari sepeda motor berbahan bakar bensin. Selain itu, harga pembeliannya sangat sebanding dan bahkan banyak motor bensin yang justru lebih mahal daripada skuter listrik.

Ruang Gerak dan Perubahan Sosial

Kehadiran motor listrik buatan China juga menarik banyak pengguna pemula, khususnya perempuan, yang tertarik dengan rasa kebebasan dan mobilitas yang ditawarkannya. Al Mahmud menjelaskan bahwa penjualan skuter listrik di kalangan perempuan meningkat pesat karena mereka ingin memiliki akses mudah ke transportasi pribadi.

Faiza Ashraf, seorang desainer muda di Pakistan, menceritakan bahwa dirinya harus menghadapi pelecehan saat menggunakan transportasi umum atau taksi online di tengah cuaca panas sebelum beralih ke motor listrik. Melalui komunitas yang ia bangun, Ashraf sering mengadakan pertemuan sesama pengendara perempuan meskipun terdapat pandangan konservatif yang menentang perempuan mengendarai sepeda motor.

Menurut Sarim Zia selaku peneliti di Sustainable Development Policy Institute di Islamabad, popularitas motor listrik di kalangan perempuan terjadi secara kebetulan karena posisi duduk pengendara motor listrik yang tegak dinilai lebih bisa diterima oleh kaum konservatif dibandingkan motor bensin. Selain itu, pengguna tidak memerlukan infrastruktur pengisian daya yang rumit karena hanya membutuhkan soket 12 volt di rumah.

Tantangan Industri dan Dimensi Geopolitik

Praktik perakitan motor listrik juga dilakukan di dalam negeri seperti di Pakistan dan Bangladesh, namun produsen masih bergantung pada komponen bernilai tinggi seperti baterai dan pengontrol elektronik yang diimpor dari China. Menurut Zia, Pakistan belum mampu mengurangi ketergantungan komponen dari China demi menjaga hubungan baik antarkedua negara.

Di sisi lain, India memiliki kekuatan ekonomi yang lebih besar dan bersikap lebih curiga terhadap impor dari China karena ambisinya membangun industri kendaraan listrik sendiri. Perusahaan India seperti Ola Electric dan Ather Energy telah mengembangkan teknologi dan produk yang disesuaikan dengan selera lokal, sementara China tetap mendominasi teknologi baterai tercanggih.

Aditya Shivamurthy selaku rekan peneliti di Observer Research Foundation di New Delhi menilai bahwa lonjakan kendaraan listrik Beijing ke Asia Selatan juga memiliki dimensi geopolitik. Shivamurthy menyatakan bahwa China menggunakan perdagangan untuk memperluas pengaruh politik dan geopolitiknya, meskipun bagi konsumen biasa, skuter buatan China tetap lebih disukai dan mudah didapatkan di tengah ketidakpastian bahan bakar.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *