Ekonomi

Perang Iran Perparah Krisis Energi AS Jelang Musim Dingin

Perang Iran Perparah Krisis Energi AS Jelang Musim Dingin
Daftar Isi
  1. Kenaikan Harga Energi yang Membebani
  2. Desakan Tindakan untuk Kongres
  3. Tantangan Keamanan Energi Jangka Panjang

Perang yang melibatkan Iran memperparah krisis keterjangkauan energi di Amerika Serikat, dengan tagihan minyak pemanas rumah yang diproyeksikan melonjak hingga 50 persen pada musim dingin mendatang. Biaya tambahan ini menambah beban hampir USD900 bagi keluarga yang harus menjaga rumah mereka tetap hangat, di tengah situasi di mana jutaan warga sudah kesulitan membayar tagihan utilitas sebelum konflik pecah.

Kenaikan Harga Energi yang Membebani

Menurut Mark Wolfe, ekonom energi sekaligus direktur eksekutif National Energy Assistance Directors Association (Neada), keluarga yang hidup mengandalkan jaminan sosial, pekerja upah minimum, dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah lainnya menghadapi dampak terberat akibat lonjakan harga energi ini. Riset dari organisasinya sebelumnya menunjukkan bahwa pemutusan aliran listrik di 10 negara bagian telah melonjak 28 persen dalam dua tahun terakhir, memaksa warga memilih antara membayar energi, makanan, obat-obatan, atau sewa rumah.

Minyak pemanas dan solar, yang merupakan produk minyak bumi serupa, sama-sama terpukul oleh disrupsi pasar energi global. Kenaikan harga solar turut mendongkrak biaya distribusi makanan, pengiriman barang, serta operasional pertanian dan konstruksi, yang akhirnya berdampak pada harga barang yang dibayar konsumen. Berbeda dengan bensin di mana keluarga dapat mengurangi penggunaan kendaraan, minyak pemanas bersifat esensial sehingga warga tidak memiliki pilihan selain mengisi tangki mereka ketika harga melonjak.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut harga minyak yang lebih tinggi akibat perang sebagai harga yang sangat kecil untuk keselamatan dan perdamaian dunia, serta mengeklaim bahan bakar akan turun drastis begitu perang usai. Namun, Wolfe menegaskan bahwa biaya tambahan sebesar USD878 untuk pemanas bukanlah jumlah yang kecil bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, pemulihan pasar minyak memerlukan waktu berbulan-bulan untuk perbaikan kilang, pembukaan jalur pelayaran, dan pengisian kembali cadangan, sehingga harga tidak akan langsung turun secara instan.

Desakan Tindakan untuk Kongres

Kongres Amerika Serikat didesak untuk segera mengambil tindakan sekembalinya mereka dari libur pasca-pemilu paruh waktu dan sebelum musim dingin tiba. Pihaknya meminta para pembuat kebijakan untuk menambahkan dana sebesar USD3 miliar ke dalam program Low Income Home Energy Assistance Program (Liheap) guna membantu keluarga berpenghasilan rendah membayar tagihan pemanas mereka.

Tambahan dana tersebut memungkinkan negara bagian memberikan bantuan tambahan untuk menutupi lonjakan harga minyak pemanas dan listrik sebelum musim dingin dimulai. Tidak hanya keluarga termiskin, banyak keluarga kelas pekerja yang berada di ambang batas kriteria penerima bantuan juga mengalami kesulitan serupa, sehingga Kongres diusulkan untuk memperluas cakupan penerima Liheap tanpa mengurangi bantuan untuk kelompok berpenghasilan paling rendah.

Sebuah survei dari Consumer Reports mencatat bahwa lebih dari seperempat keluarga terpaksa mengurangi penggunaan pemanas dan pendingin ruangan ke tingkat yang tidak nyaman guna menghemat pengeluaran, sementara 19 persen lainnya mengurangi anggaran belanja makanan atau beralih ke pilihan makanan yang lebih murah. Tanpa adanya tambahan bantuan energi, keluarga-keluarga tersebut dikhawatirkan akan semakin tertinggal dan menghadapi risiko kehilangan penghangat ruangan pada bulan-bulan terdingin.

Tantangan Keamanan Energi Jangka Panjang

Wolfe menilai Amerika Serikat perlu mengubah cara pandang dalam mengukur keamanan energi, yang selama ini hanya berpatokan pada volume produksi minyak dan gas domestik. Kenyataannya, produksi energi yang tinggi di dalam negeri tidak mampu melindungi keluarga dari kejutan harga yang disebabkan oleh perang di luar negeri.

Solusi jangka panjang menuntut perluasan sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan matahari, yang biaya bahan bakarnya tidak dapat didongkrak oleh konflik militer di belahan bumi lain. Perang di Iran pada akhirnya akan usai, namun krisis keterjangkauan energi tidak akan otomatis berakhir bersamaan dengan selesainya konflik tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *